Kutukan Menjadi Orang yang 'Bisa Diandalkan'

Kutukan Menjadi Orang yang "Bisa Diandalkan"

Oleh: Hasanusi Muhammad

Sore itu, di balik kepulan uap kopi yang mulai mendingin, seorang kawan lama menumpahkan keresahan yang sudah lama ia pendam. Wajahnya tampak lelah, bukan lelah fisik sehabis lari maraton, melainkan lelah mental karena merasa terjepit di ruang profesionalnya sendiri.

Ia bercerita tentang sebuah jebakan yang sangat halus, namun mematikan: Jebakan "Minta Tolong".

Dari Bantuan Menjadi Kewajiban

Semuanya bermula dari satu-dua tugas kecil di luar tanggung jawab utamanya. Atasannya sering berdalih, "Cuma kamu yang bisa saya percaya untuk ini." Sebagai staf yang punya integritas dan semangat extra mile, kawan saya ini selalu menjawab dengan anggukan mantap.

Namun, perlahan namun pasti, garis batas itu kabur. Sesuatu yang awalnya adalah bantuan sukarela (voluntary), kini bermutasi menjadi tugas rutin yang wajib dikerjakan. Celakanya, tugas-tugas itu bukanlah perkara remeh. Jika dilempar ke pihak profesional luar, tugas tersebut pasti bernilai materi yang besar. Namun di tangannya, itu hanya dianggap sebagai "tambahan kecil" tanpa imbalan, tanpa apresiasi.

Ironi Sebuah Kebaikan

Yang membuat kawan saya ini sesak adalah ketika "kebaikan" tersebut mulai dianggap sebagai "hak" oleh sang atasan.

"Bayangkan, Ci," katanya dengan nada getir, "saat aku terlambat menyelesaikan tugas titipan itu—padahal itu bukan job desk-ku dan kapasitas kerjaku sudah penuh—aku justru dimarahi. Seolah-olah aku melakukan kesalahan besar pada pekerjaan utamaku."

Di sinilah letak ironinya. Saat kita terlalu sering melampaui batas demi membantu orang lain, orang tersebut cenderung tidak lagi melihatnya sebagai pengorbanan. Mereka melihatnya sebagai standar baru. Kebaikan yang diberikan terus-menerus tanpa batas, lama-lama akan dianggap sebagai kewajiban yang dituntut sempurna.

Refleksi untuk Kita Semua

Mendengar ceritanya, saya termenung. Kita seringkali takut berkata "tidak" karena rasa segan atau tuntutan hierarki. Namun, kita lupa bahwa menjadi orang yang "selalu bisa diandalkan" tanpa batas seringkali berujung pada eksploitasi yang tidak disadari.

Ternyata, menetapkan batasan (boundaries) di tempat kerja bukanlah tanda kita malas atau tidak loyal. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap kapasitas diri sendiri. Karena jika kita tidak memberi harga pada waktu dan tenaga kita, jangan pernah berharap orang lain akan melakukannya.

Terima kasih untuk kawanku yang sudah berbagi cerita. Semoga kita semua belajar, bahwa menjadi baik itu perlu, tapi menjadi bijak dalam membagi tenaga adalah keharusan.

"Pernahkah kalian merasa terjebak dalam situasi yang sama? Bagaimana cara kalian mulai berani berkata 'tidak'?"
anak muda capek bekerja
More work

🔥 TERBAIK

4 Postingan Pilihan

dari hasanusimuhammad.com (acak tiap refresh)