Tulisan ini merupakan intisari dari ceramah yang disampaikan oleh Ust. Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana saat mengisi tausyiah tarawih di Masjid Baiturrahmah Gp. Keuramat, Kamis malam, 19 Februari 2026. Pesan-pesan yang beliau sampaikan menjadi pengingat yang sangat mendalam bagi kita semua di awal Ramadhan ini.
Berapa kali kita merapalkan doa "Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan" selama berbulan-bulan lalu? Dan hari ini, doa itu telah terjawab. Kita masih dihidupkan oleh Allah SWT untuk mencicipi indahnya ibadah di bulan mulia ini.
Baca Juga:
Apa Itu Gelar Dr. rer. nat.? Mengulik Gelar Akademik Ustadz Ilham Maulana
Namun, di balik kegembiraan ini, Ust. Ilham Maulana memberikan sebuah peringatan penting tentang dua hal yang seringkali membuat manusia tergelincir dalam kelalaian justru di saat mereka merasa sedang baik-baik saja.
Dua Nikmat yang Menipu
Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang paling banyak menipu manusia, yaitu: Nikmat Sehat dan Nikmat Kesempatan (Waktu Luang).
Mengapa menipu? Karena saat kita sehat, kita cenderung arogan dan merasa "ah, nanti saja ibadahnya." Dan saat kita punya waktu luang, kita sering menunda-nunda kebaikan seolah-olah umur kita masih tersisa ribuan tahun lagi. Padahal, menurut Ust. Ilham, setiap detik yang kita lalui bisa jadi adalah injury time atau detik-detik terakhir dalam hidup kita.
Kita Semua Sedang Berada dalam Kerugian?
Mengulas Surah Al-Ashr, Ust. Ilham menekankan bahwa Allah bersumpah demi masa untuk menunjukkan betapa krusialnya waktu. Secara default, manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang mengisi waktunya dengan iman dan amal shaleh.
Menariknya, beliau mengaitkan hal ini dengan Surah At-Tin. Manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (Ahsani Taqwim), namun bisa jatuh ke tempat serendah-rendahnya (Asfala Safilin). Beliau memberikan perumpamaan yang sangat kuat dari sudut pandang sains: Aspal.
Dalam proses penyulingan minyak bumi, aspal adalah fraksi terendah yang tidak bisa mendidih lagi pada suhu tinggi sekalipun. Begitu jugalah manusia; jika potensi ibadahnya hilang dan waktunya habis sia-sia untuk hal yang tak berguna, ia akan berakhir di posisi terendah (Asfal) yang tidak lagi memiliki nilai spiritual.
Tips Manajemen Waktu: Kuadran Prioritas
Agar tidak berakhir menjadi "aspal" spiritual, kita perlu bijak mengelola waktu. Ust. Ilham membagikan 4 kuadran manajemen waktu yang sangat relevan untuk kita terapkan:
Penting & Mendesak: Ibadah wajib dan tanggung jawab utama. Ini tidak bisa diwakilkan. Lakukan sekarang!
Mendesak tapi Tidak Penting: Hal-hal yang harus selesai cepat tapi bisa dibantu orang lain.
Penting tapi Tidak Mendesak: Agenda jangka panjang seperti target khatam Al-Qur'an. Jadwalkan dengan disiplin agar tidak terabaikan.
TIDAK Penting & TIDAK Mendesak: Inilah jebakan maut digital! Contohnya: Scrolling media sosial tanpa tujuan atau menonton hal tak bermanfaat selama berjam-jam.
Pesan untuk Kita Semua
Beliau menyindir kebiasaan kita yang sering bertingkah seperti tim sepak bola; baru menyerang habis-habisan di menit-menit terakhir (injury time). Mengapa harus menunggu ajal mendekat baru kita sibuk ingin bersedekah dan beramal shaleh?
Mari kita hargai setiap detik yang Allah berikan. Ramadhan adalah fasilitas spesial agar kita kembali "mendidih" dalam kebaikan, bukan menjadi sisa buangan yang tidak berdaya.
Sudahkah kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita serius mengisi sisa detik Ramadhan kali ini dengan benar?
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya pribadi dan para pembaca setia Hasanusimuhammad.com. Mari kita maksimalkan setiap detik Ramadhan ini dengan iman dan amal shaleh.
Wassalam.
![]() |
| Prof. Dr. Rer. Nat. Ilham Maulana |
