![]() |
| Siswa-siswi kelas 1 dan 4 SDTQ Nurun Nabi di Komplek Museum Aceh |
Mengambil lokasi di kompleks Museum Aceh, kegiatan rutin tahunan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa di luar ruang kelas.
Koordinator Kegiatan Tadabbur Alam, Ustadz Miftahul Zaky, S.E, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut melibatkan seluruh siswa dari berbagai jenjang kelas. Namun, agar proses pendampingan berjalan maksimal dan kondusif, pihak sekolah membagi jadwal kunjungan menjadi tiga gelombang.
"Untuk siswa kelas 1 dan 4 kunjungan dilaksanakan Senin kemarin, hari ini ada siswa kelas 3 dan 6, sedangkan kelas 2 dan 5 insyaAllah besok, Rabu" terang Ustadz Zaky, Selasa (14/4)
Ustadz Zaky menambahkan bahwa kegiatan siswa selama berada di Komplek Museum Aceh disesuaikan dengan tingkatan masing-masing. Untuk siswa kelas rendah seperti kelas 1 dan 2, fokus kegiatan lebih kepada pengenalan dasar dan pengamatan visual agar mereka merasa senang belajar di luar sekolah.
Sementara bagi siswa kelas tinggi, mereka diberikan tugas tambahan berupa observasi yang lebih mendalam serta diskusi mengenai keterkaitan sejarah Aceh dengan nilai-nilai keislaman yang selama ini mereka pelajari di sekolah.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap jenjang kelas mendapatkan pengalaman yang berkesan. Jadi, meski lokasinya sama, materi dan cara penyampaiannya kami bedakan agar anak-anak tetap antusias dan mampu menyerap ilmu dengan maksimal," tambah Ustadz Zaky.
Sementara itu Kepala Sekolah SDTQ Nurun Nabi, Ustadz Rahmat Rizki, M.Ag, menyampaikan bahwa Tadabbur Alam ini bertujuan agar siswa bisa belajar langsung dari alam dan sejarah tentang kebesaran Allah. Menurut beliau, sekolah ingin menyeimbangkan antara ilmu yang dihafal siswa di kelas dengan kenyataan yang mereka lihat langsung di lapangan.
Dalam kunjungannya ke Museum Aceh, Ustadz Rahmat menjelaskan bahwa para siswa diajak untuk melihat sejarah sebagai bukti kekuasaan Allah. Mereka tidak hanya melihat benda-benda kuno, tetapi juga belajar bagaimana masyarakat Aceh terdahulu membangun peradaban yang berlandaskan nilai Islam. Hal ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa bangga dalam diri siswa sebagai seorang muslim.
Selain itu, melihat keunikan Rumoh Aceh menjadi cara bagi siswa untuk memahami bagaimana manusia bisa hidup harmoni dengan alam sekitar. Kunjungan ini juga menjadi ajang latihan bagi anak-anak untuk disiplin, menjaga adab di tempat umum, dan belajar bekerja sama dengan teman-temannya.
"Kami ingin menanamkan bahwa kebesaran Allah tidak hanya kita baca di dalam Al-Qur'an, tapi juga bisa kita lihat dari sejarah peradaban manusia. Kami berharap anak-anak bisa menghargai budayanya sendiri sehingga mereka tumbuh menjadi penghafal Al-Qur'an yang berwawasan luas," ujar Ustadz Rahmat Rizki.
Antusiasme terhadap kegiatan ini juga dirasakan oleh para wali murid. Sunardi M. Yusuf, salah satu orang tua siswa yang buah hatinya turut serta dalam kegiatan tersebut, menyatakan rasa senangnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Pemilik usaha Mie Dower tersebut menilai kegiatan seperti ini sangat positif karena mampu memberikan penyegaran sekaligus edukasi nyata bagi anak-anak. Menurutnya, anak-anak tidak hanya mendapatkan wawasan sejarah yang berharga, tetapi juga belajar bersosialisasi dan mengenal lingkungan di luar sekolah dengan cara yang menyenangkan.
"kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak kami, semoga kedepan bisa terus berlanjut dengan lokasi-lokasi lainnya yang tidak kalah menarik," kata Sunardi
Diharapkan melalui kegiatan tadabbur ini, para siswa SDTQ Nurun Nabi tidak hanya unggul dalam hafalan Al-Qur'an, tetapi juga memiliki kepekaan batin dan kecerdasan dalam membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui sejarah dan alam semesta.
