Inspiraci - Halo teman-teman! Pernah nggak sih, pas lagi asyik-asyiknya mau tidur dan bersiap istirahat, tiba-tiba otak kita malah memutar ulang kejadian tadi siang?
Lalu batin kita mulai berisik:
"Eh, keputusanku tadi salah nggak, ya?"
"Duh, kira-kira orang-orang di kantor mikir apa ya soal postinganku tadi?"
"Gimana kalau mereka diam-diam nggak suka?"
Kalau Anda sering mengalami fase overthinking semacam ini, tenang saja, Anda tidak sendirian. Kita semua pernah ada di fase itu. Tapi, tahukah Anda bahwa kebiasaan kecil ini ternyata bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mental kita?
Kemarin, saya melihat sebuah video pendek yang seakan 'menampar' tapi sekaligus menyadarkan saya. Video itu membahas sebuah pertanyaan sederhana namun menusuk: Apa sebenarnya sumber penderitaan terbesar dalam hidup manusia?
Mungkin tebakan pertama kita langsung tertuju pada isi dompet yang menipis di akhir bulan, atau mungkin masalah kesehatan fisik. Wajar, kita sering berpikir materi dan fisik adalah segalanya.
Namun, temuan dari Profesor Rory O'Connor, seorang pakar psikologi, justru mengungkapkan fakta yang mengejutkan.
Beliau menyimpulkan bahwa hal yang paling membuat manusia menderita hingga ke relung batinnya bukanlah soal uang, dan bukan juga soal penyakit fisik. Penderitaan psikologis terbesar manusia ternyata datang dari satu hal: Kita terlalu sibuk memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita.
Ya, kita pusing sendiri oleh omongan orang.
Dalam dunia psikologi, ada istilah keren untuk kondisi ini: Social Perfectionism. Ini adalah kondisi di mana kita merasa harus selalu tampil sempurna, mengambil keputusan yang selalu menyenangkan semua pihak, dan takut setengah mati mendapat penilaian buruk dari orang lain.
Coba renungkan, berapa banyak energi yang terkuras hanya untuk mengejar "validasi" dari orang-orang yang mungkin bahkan tidak benar-benar peduli pada kehidupan kita? Sangat melelahkan, bukan?
Jauh sebelum ilmu psikologi modern menemukan istilah ini, Imam Syafi'i sudah pernah memberikan sebuah wejangan emas yang sangat menenangkan hati:
"Inna ridhannas ghoyatun la tudrok."
(Berharap semua orang suka kepada kita adalah sebuah tujuan yang mustahil untuk dicapai).
Sederhana, tapi maknanya begitu dalam. Nasihat ini menyadarkan kita bahwa berusaha menyenangkan hati semua orang—entah itu di dunia nyata maupun di media sosial—adalah perlombaan yang tidak akan pernah ada garis finisnya.
Jadi, mari kita ambil napas panjang dan mulai melepaskan beban berat itu hari ini. Kita tidak akan pernah bisa mengontrol isi kepala dan lisan orang lain, tapi kita punya kendali penuh atas kedamaian hati kita sendiri.
Yuk, mulai hidup untuk diri kita sendiri, keluarga, dan nilai-nilai kebaikan yang kita yakini—bukan untuk sekadar memuaskan ekspektasi orang lain.
Kira-kira, hal apa yang paling sering bikin teman-teman overthinking soal omongan orang? Boleh share di kolom komentar, ya! Kita ngobrol bareng di sana.