Ustadz Fahmi Sofyan Soroti Bahaya Pendidikan yang Hanya Kejar Intelektualitas

Seminar Parenting SDTQ Nurun Nabi tahun 2026
[Foto] Ustadz Fahmi Sofyan saat menyampaikan materi parentig, Sabtu (26/9)
Banda Aceh - Orang tua tentu ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi. Namun, Ustadz Dr. Fahmi Sofyan, Lc., MA., mengingatkan agar pendidikan anak tidak berhenti pada persoalan intelektualitas.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Fahmi saat menjadi pemateri Seminar Parenting dan Sosialisasi Program Sekolah SDTQ Nurun Nabi yang berlangsung di Balai Petua Ramli, Zawiyah Nurun Nabi, Banda Aceh, Sabtu (26/9/2026).

Di hadapan para wali murid, Ustadz Fahmi mengajak orang tua melihat kembali tujuan pendidikan anak. Menurutnya, kemampuan intelektual memang penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.

Ia kemudian memberikan sebuah gambaran tentang seorang anak yang sejak kecil mendapatkan perhatian besar dalam hal kecerdasan dan kemampuan berpikir.

Anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang mampu membuat berbagai perhitungan dengan pertimbangan yang rasional.

Namun, persoalan muncul ketika suatu hari ia mendapat telepon dari orang tuanya yang sedang sakit.

Alih-alih segera pulang untuk menemui dan membantu orang tuanya, anak tersebut justru memilih tetap berada di tempat kerja.

Pertimbangannya adalah posisi dan kariernya di kantor. Ia menghitung bahwa meninggalkan pekerjaan untuk pulang akan berpotensi membahayakan kedudukannya di tempat kerja.

"Orang tuanya menelepon dan membaritahukan bahawa ia dalam keadaan sakit, tetapi si anak tidak mau pulang. Karena menurut hitung-hitungan sang anak, kalau dia pulang akan membahayakan posisinya di kantor," ujar Ustadz Fahmi dalam pemaparannya.

Contoh tersebut disampaikan Ustadz Fahmi untuk menggambarkan bahwa kecerdasan intelektual saja belum cukup untuk membentuk seorang manusia secara utuh.

Seseorang bisa memiliki kemampuan berpikir yang baik, mampu menghitung risiko dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan tertentu. Namun, dalam kehidupan, manusia juga membutuhkan nilai-nilai yang menjadi dasar dalam menentukan sikap.

Menurut Ustadz Fahmi, pendidikan anak perlu diarahkan agar kecerdasan yang dimiliki tidak hanya membuat anak mampu menjawab persoalan secara logis, tetapi juga memahami nilai dan tanggung jawab di balik setiap keputusan.

Sebab, kecerdasan tanpa arah nilai dapat membuat seseorang terlalu fokus pada perhitungan untung dan rugi.

Dalam kasus yang dicontohkan tersebut, kepentingan pekerjaan menjadi pertimbangan utama, sementara kondisi orang tua yang sedang sakit tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan pekerjaan.

Karena itu, Ustadz Fahmi menekankan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak cukup diukur dari seberapa tinggi nilai akademik atau seberapa tajam kemampuan berpikirnya. Anak juga perlu dibekali nilai-nilai spiritualitas meliputi adab, kepedulian, dan kemampuan menempatkan sesuatu pada prioritas yang benar.