6 Pesan Ustadz Abdul Somad tentang Mendidik Anak: Ternyata Dimulai dari Orang Tua
Mendidik anak ternyata bukan hanya soal memilih sekolah yang bagus, memasukkan anak ke lembaga tahfiz, menyediakan les tambahan, atau memastikan nilai rapornya tinggi.
Ada sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan anak setiap hari: orang tuanya sendiri.
Dalam sebuah ceramah, Ustadz Abdul Somad menyampaikan sejumlah pesan yang cukup dalam tentang bagaimana seharusnya orang tua memandang pendidikan anak.
Pesan-pesan ini menarik untuk direnungkan. Sebab terkadang kita terlalu sibuk mencari cara memperbaiki anak, sampai lupa melihat diri sendiri.
Berikut beberapa pesan penting tersebut.
1. Anak adalah Cerminan Orang Tuanya
Pernahkah kita bertanya mengapa anak memiliki kebiasaan tertentu?
Mengapa anak mudah marah? Mengapa anak sulit berkata lembut? Mengapa anak malas beribadah? Atau sebaliknya, mengapa ada anak yang begitu mudah diarahkan dan terbiasa melakukan kebaikan?
Menurut Ustadz Abdul Somad, salah satu hal yang perlu dilihat adalah bagaimana orang tuanya.
“Pribadi anak cerminan ketakwaan orang tua.”
Cermin tidak pernah memilih-milih apa yang ingin ditampilkan. Apa yang ada di depan cermin, itulah yang akan terlihat.
Begitu juga dengan anak.
Anak melihat bagaimana ayahnya berbicara. Anak memperhatikan bagaimana ibunya bersikap. Anak mendengar bagaimana orang tuanya berbicara kepada pasangan. Anak melihat apakah orang tuanya menjaga salat, berkata jujur, menepati janji dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Karena itu, sebelum mengatakan, “Kenapa anak saya seperti ini?”, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
“Sudah seperti apa saya di hadapan anak saya?”
Anak bukan hanya mendengar nasihat orang tua. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
2. Tujuan Mendidik Anak Bukan Sekadar Agar Sukses
Kita tentu ingin anak berhasil.
Kita ingin melihat mereka lulus sekolah dengan nilai bagus, masuk perguruan tinggi, mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki kehidupan yang layak.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Namun Ustadz Abdul Somad mengingatkan bahwa ada tujuan yang jauh lebih besar dalam mendidik anak.
“Kita sebagai orang tua yang kita inginkan cuman satu, kita ingin anak itu nanti yang membisikkan ke telinga kita saat sakratul maut ‘Lailahaillallah’.”
Kalimat ini mungkin membuat kita berhenti sejenak.
Sebab selama ini ukuran keberhasilan anak sering kali hanya dilihat dari prestasi duniawi.
Anak juara kelas, kita bangga.
Anak diterima di sekolah favorit, kita bahagia.
Anak lulus kuliah, kita bersyukur.
Anak mendapatkan pekerjaan bagus, kita merasa berhasil.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apakah pendidikan yang kita berikan membuat anak semakin dekat kepada Allah?
Sebab pada akhirnya, bukan hanya ijazah dan prestasi yang kita harapkan dari mereka.
Kita berharap anak menjadi pribadi yang saleh, berakhlak, memiliki iman dan mampu menjadi jalan kebaikan bagi orang tuanya.
3. Ibu adalah Madrasah Pertama bagi Anak
Ada ungkapan yang sangat populer dalam pendidikan Islam:
Al-ummu madrasatul ula.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anak.
Ustadz Abdul Somad mengatakan bahwa ketika kita melihat anak-anak yang luar biasa, sering kali ada ibu yang luar biasa di belakangnya.
“Ibu adalah guru yang pertama. Jadi kalau kita melihat ada anak-anak yang luar biasa, itu pasti karena ada ibu yang luar biasa.”
Mengapa pengaruh ibu begitu besar?
Karena sejak kecil, anak banyak belajar dari interaksi paling sederhana di rumah.
Cara ibu berbicara.
Cara ibu menghadapi masalah.
Cara ibu memperlakukan orang lain.
Cara ibu mengajarkan doa.
Cara ibu mengingatkan salat.
Bahkan cara ibu meminta maaf ketika salah.
Semua itu menjadi bagian dari pendidikan anak.
Maka pendidikan sebenarnya tidak selalu dimulai dari ruang kelas.
Sering kali pendidikan dimulai dari ruang keluarga.
Dari meja makan.
Dari kamar tidur.
Dari percakapan sebelum anak berangkat sekolah.
Dan dari doa seorang ibu ketika anaknya sedang tidur.
4. Jangan Jadikan Sekolah Sebagai “Laundry” Anak
Ini salah satu bagian yang cukup menarik dari ceramah tersebut.
Ustadz Abdul Somad mengibaratkan sekolah bukan sebagai tempat laundry.
“Jangan jadikan sekolah sebagai laundry.”
Maksudnya sederhana.
Jangan sampai ketika anak sudah masuk sekolah, seluruh tanggung jawab pendidikan kita serahkan kepada guru.
Ketika anak melakukan kesalahan, sekolah yang disalahkan.
Ketika anak kurang disiplin, guru yang diminta memperbaiki.
Ketika anak kurang sopan, sekolah yang dipertanyakan.
Padahal anak tidak hanya hidup di sekolah.
Sebagian besar waktunya justru berada di rumah.
Karena itu, sekolah dan orang tua seharusnya berjalan bersama.
“Sekolah bukan laundry, sekolah adalah partner kita dalam mendidik anak kita.”
Ini penting untuk dipahami.
Guru bukan pengganti orang tua.
Orang tua juga bukan pengganti guru.
Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
Kalau sekolah mengajarkan anak untuk berkata jujur, tetapi di rumah anak melihat orang tuanya sering berbohong, pendidikan menjadi tidak sinkron.
Kalau sekolah mengajarkan adab, tetapi di rumah anak melihat orang dewasa berbicara kasar, anak akan mendapatkan dua contoh yang berbeda.
Karena itu, pendidikan terbaik adalah ketika rumah dan sekolah memiliki arah yang sama.
5. Perhatikan Apa yang Masuk ke Perut Anak
Pendidikan anak ternyata tidak hanya tentang buku, nasihat dan sekolah.
Apa yang diberikan orang tua kepada anak juga menjadi bagian penting dari pendidikan.
Ustadz Abdul Somad mengingatkan pentingnya makanan yang halal dan baik.
“Kalau anak dikasih makan dari tipu-tipu, korupsi, lalu disuap anak... darahnya masuk ke jantung, nyembur naik ke otak, otaknya jadi kotor gara-gara makanan yang kotor.”
Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: orang tua perlu memperhatikan sumber rezeki yang diberikan kepada keluarga.
Anak mungkin belum memahami dari mana uang untuk membeli makanan berasal.
Tetapi orang tua mengetahuinya.
Karena itu, mencari nafkah bukan hanya persoalan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Ada tanggung jawab moral dan agama di dalamnya.
Kita ingin anak tumbuh sehat.
Kita ingin pikirannya baik.
Kita ingin hatinya lembut.
Kita ingin ia mudah menerima nasihat dan mencintai kebaikan.
Maka salah satu ikhtiar orang tua adalah memastikan rezeki yang diberikan kepada keluarga berasal dari jalan yang halal.
Selain makanan, jangan lupa bahwa anak juga “memakan” apa yang mereka dengar dan lihat setiap hari.
Mereka menyerap perkataan.
Mereka menyerap kebiasaan.
Mereka menyerap suasana rumah.
Karena itu, kata-kata orang tua pun bisa menjadi bagian dari pendidikan.
6. Memilih Pasangan Berarti Memilih Ibu atau Ayah bagi Anak
Pesan terakhir ini menarik karena pendidikan anak ternyata bahkan dimulai sebelum anak itu lahir.
Ketika memilih pasangan hidup, kita sebenarnya bukan hanya memilih seseorang untuk menemani perjalanan hidup.
Kita juga sedang memilih siapa yang kelak akan menjadi ayah atau ibu bagi anak-anak kita.
Ustadz Abdul Somad mengingatkan:
“Jangan katakan ‘Sudikah engkau menemani aku hingga kematian tiba’, tapi katakan ‘Sudikah engkau menjadi ibu bagi anak-anakku yang akan menemani kita bersama sampai ke surga bersama Rasulullah’.”
Artinya, pernikahan memiliki tujuan yang jauh lebih panjang daripada sekadar hidup bersama di dunia.
Ada generasi yang akan lahir dari pernikahan tersebut.
Ada anak-anak yang akan belajar dari kedua orang tuanya.
Ada karakter yang akan dibentuk.
Ada iman yang akan ditanamkan.
Maka memilih pasangan hidup juga merupakan bagian dari mempersiapkan masa depan generasi.
Pendidikan Anak Dimulai dari Rumah
Dari enam pesan tersebut, ada satu benang merah yang sangat kuat:
pendidikan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
Sekolah penting.
Guru penting.
Lingkungan juga penting.
Tetapi rumah tetap menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kehidupan.
Anak belajar tentang kasih sayang dari orang tuanya.
Anak belajar tentang kejujuran dari orang tuanya.
Anak belajar tentang salat dari orang tuanya.
Anak belajar bagaimana memperlakukan orang lain dari orang tuanya.
Dan yang tidak kalah penting, anak belajar bagaimana menjadi seorang Muslim dari apa yang mereka lihat di rumah.
Maka mungkin kita tidak perlu terlalu cepat bertanya,
“Sekolah mana yang paling bagus untuk anak saya?”
Sebelum itu, mari bertanya:
“Sudahkah rumah kami menjadi tempat pendidikan yang baik bagi anak-anak kami?”
Sebab sekolah hanya mendampingi.
Guru hanya membantu.
Sedangkan orang tua adalah sosok yang setiap hari dilihat anak.
Dan pada akhirnya, anak tidak selalu menjadi seperti apa yang kita katakan.
Sering kali mereka tumbuh menjadi seperti apa yang mereka lihat dari kita.
Sumber
Tulisan ini dirangkum dari materi ceramah Ustadz Abdul Somad yang membahas tentang pendidikan anak, peran orang tua, ibu sebagai madrasah pertama, hubungan orang tua dengan sekolah, serta pentingnya rezeki yang halal dalam keluarga.
Video referensi: YouTube, Ustadz Abdul Somad.
