Mengenal Tasmi' Al-Qur'an, Program Unggulan SDTQ Nurun Nabi

Ustadz Zamhuri Ramli, SQ., MA., Ketua Yayasan Zawiyah Nurun Nabi, sedang menyimak hafalan Al-Qur'an salah seorang peserta Tasmi' Akbar di Belee Petua Ramli, Komplek SDTQ Nurun Nabi, Juli 2026.
Ketua Yayasan Zawiyah Nurun Nabi, Ustadz Zamhuri Ramli, SQ., MA., menyimak hafalan Al-Qur'an salah seorang Siswi SDTQ Nurun Nabi di Balee Petua Ramli, Komplek SDTQ Nurun Nabi, Senin (20/7/2026)
Mengenal Tasmi' Al-Qur'an, Program Unggulan SDTQ Nurun Nabi untuk Menjaga Kualitas Hafalan Siswa

BANDA ACEH – Menghafal Al-Qur'an merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan konsistensi. Namun, perjalanan seorang penghafal Al-Qur'an tidak berhenti ketika berhasil mengingat ayat demi ayat. Hafalan tersebut juga perlu dijaga, diperiksa, dan terus dievaluasi agar tetap kuat dan terpelihara.

Salah satu cara yang dikenal dalam dunia pendidikan tahfiz untuk menguji dan memperdengarkan hafalan Al-Qur'an adalah melalui kegiatan tasmi' Al-Qur'an.

Secara bahasa, tasmi' berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan aktivitas memperdengarkan atau menyimak. Dalam praktik pendidikan tahfiz, tasmi' merupakan kegiatan ketika seorang penghafal Al-Qur'an memperdengarkan hafalannya kepada guru atau penyimak untuk diperiksa ketepatan dan kelancarannya.

Kegiatan ini menjadi salah satu bagian penting dalam proses menjaga hafalan Al-Qur'an. Sebab, kemampuan menghafal tidak hanya berkaitan dengan banyaknya ayat atau juz yang telah dikuasai, tetapi juga bagaimana hafalan tersebut dapat dibaca kembali dengan lancar dan benar.

Tasmi' Akbar, Salah Satu Program Unggulan SDTQ Nurun Nabi

Pentingnya menjaga kualitas hafalan menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan tahfiz di SDTQ Nurun Nabi. Sekolah ini tidak hanya mendorong siswa untuk mencapai target hafalan, tetapi juga menyelenggarakan program Tasmi' Akbar sebagai salah satu program unggulannya.

Melalui kegiatan ini, siswa diuji dengan memperdengarkan hafalan satu juz secara utuh, mulai dari awal hingga akhir juz, di hadapan guru tahfidz.

Menariknya, meskipun dilaksanakan secara bersama-sama oleh banyak siswa, proses penyimakan tetap dilakukan secara individual dengan pola satu guru untuk satu murid.

Setiap guru tahfidz menyimak bacaan siswa secara langsung sekaligus mencatat hasil evaluasinya. Dengan demikian, setiap siswa mendapatkan perhatian dan penilaian tersendiri selama memperdengarkan hafalannya.

Istilah "Akbar" dalam kegiatan ini merujuk pada pelaksanaan tasmi' yang dilakukan secara bersama-sama oleh banyak siswa dalam satu agenda kegiatan, sementara proses pengujian hafalan tetap berlangsung secara individual.

Flayer tasmi' Akbar edisi November 2026 di SDTQ Nurun Nabi
Flayer Tasmi' Akbar SDTQ Nurun Nabi edisi November 2026

Tidak Hanya Menguji Hafalan, tetapi Juga Kualitas Bacaan

Dalam pelaksanaannya, penilaian Tasmi' Akbar tidak hanya berfokus pada kemampuan siswa mengingat urutan ayat. Ada beberapa aspek yang turut diperhatikan oleh guru tahfidz.

Di antaranya adalah ketepatan hafalan, kelancaran membaca, penerapan hukum tajwid, serta ketepatan makharijul huruf atau tempat keluarnya huruf hijaiyah.

Aspek-aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mengetahui sejauh mana siswa mampu menjaga hafalan yang telah dipelajarinya.

Ketika ditemukan kesalahan hafalan atau bacaan yang belum sesuai, guru akan mencatatnya sebagai bahan evaluasi. Catatan tersebut menjadi dasar bagi siswa untuk memperbaiki dan memperkuat kembali hafalannya.

Dengan mekanisme seperti ini, tasmi' tidak sekadar menjadi ajang memperdengarkan hafalan, tetapi juga sarana evaluasi untuk memastikan perkembangan kemampuan setiap siswa.

Menjadi Tolok Ukur untuk Melanjutkan Hafalan ke Juz Berikutnya

Salah satu hal penting dari program Tasmi' Akbar di SDTQ Nurun Nabi adalah fungsinya sebagai salah satu barometer perkembangan hafalan siswa.

Hasil tasmi' menjadi bahan pertimbangan untuk mengetahui apakah seorang siswa telah memenuhi standar untuk melanjutkan hafalan ke juz berikutnya atau masih perlu memperkuat hafalan yang sedang dipelajari.

Siswa yang dinyatakan lulus akan memperoleh sertifikat sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian hafalannya. Sementara siswa yang belum lulus diberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan dan mengulang tasmi' hingga memenuhi standar yang ditetapkan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencapaian hafalan tidak semata-mata diukur dari jumlah juz yang berhasil diselesaikan. Kualitas hafalan juga menjadi perhatian dalam proses pendidikan.

Mengapa Tasmi' Penting bagi Anak Penghafal Al-Qur'an?

Bagi anak-anak yang sedang menempuh pendidikan tahfiz, kegiatan tasmi' memiliki sejumlah manfaat.

Pertama, membantu menjaga hafalan melalui pembiasaan murajaah atau mengulang kembali ayat-ayat yang telah dihafalkan.

Kedua, melatih keberanian dan kesiapan mental anak ketika harus memperdengarkan hafalannya di hadapan guru.

Ketiga, membantu siswa mengetahui bagian-bagian hafalan yang masih perlu diperbaiki, baik dari segi kelancaran, ketepatan ayat, tajwid, maupun makhraj.

Keempat, membangun kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menjaga hafalan Al-Qur'an.

Lebih dari itu, tasmi' mengajarkan kepada anak bahwa menghafal Al-Qur'an bukan hanya tentang mencapai target, tetapi juga tentang kesungguhan memelihara apa yang telah dihafalkan.

Membangun Kebiasaan Menjaga Hafalan Al-Qur'an

Ketua Lembaga Tahfidz Al-Qur'an (LTQ) Nurun Nabi, Ustadz Asy'ari, S.IP., menempatkan tasmi' sebagai bagian penting dalam proses pendidikan tahfiz di SDTQ Nurun Nabi.

Dalam pelaksanaannya, program ini tidak hanya diarahkan untuk mengetahui jumlah hafalan yang telah dicapai siswa, tetapi juga menjadi sarana mengukur kualitas hafalan sebelum mereka melanjutkan ke juz berikutnya.

Melalui program Tasmi' Akbar, SDTQ Nurun Nabi berupaya membangun kebiasaan bahwa setiap hafalan yang telah diperoleh perlu dijaga dan dipertanggungjawabkan kualitasnya melalui proses penyimakan dan evaluasi.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tahfiz bukan hanya tentang seberapa banyak juz yang berhasil dihafalkan seorang anak, tetapi juga bagaimana ia terus menjaga hafalan tersebut sepanjang perjalanan hidupnya.

Sebab, menghafal Al-Qur'an adalah sebuah pencapaian, sedangkan menjaga hafalan merupakan tanggung jawab yang terus berjalan.