Orang Tua Ingin Sinkronkan Pendidikan di Rumah dan Sekolah, Ini Jawaban Ustadz Fahmi Sofyan

Ustadz Fahmi Sofyan SDTQ Nurun Nabi
TELADAN ORANG TUA: Anak lebih mudah meniru apa yang dilihat daripada mengikuti apa yang diperintahkan. Ustadz Fahmi Sofyan saat memaparkan konsep Uswatun Hasanah kepada wali murid dalam Seminar Parenting SDTQ Nurun Nabi di Banda Aceh, Sabtu (26/9/2026).

Banda Aceh
- Bagaimana cara orang tua menyelaraskan pendidikan anak di rumah dengan kebiasaan yang sudah dibangun di sekolah? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Seminar Parenting SDTQ Nurun Nabi, Sabtu (26/9/2026).

Pertanyaan itu disampaikan salah seorang wali murid kepada Ustadz Dr. Fahmi Sofyan, Lc., MA., yang menjadi pemateri dalam kegiatan yang berlangsung di Balai Petua Ramli, Zawiyah Nurun Nabi, Banda Aceh.

Menjawab pertanyaan tersebut, Ustadz Fahmi mengangkat konsep Uswatun Hasanah, yakni memberikan contoh atau suri teladan yang baik kepada anak.

Menurutnya, pendidikan yang diterima anak di sekolah perlu diperkuat dengan kebiasaan yang sama ketika mereka berada di rumah.

Bukan hanya melalui nasihat, orang tua justru perlu memperlihatkan secara langsung perilaku yang ingin ditanamkan kepada anak.

Anak Belajar dari Apa yang Dilihat

Ustadz Fahmi menjelaskan konsep Uswatun Hasanah dengan merujuk pada penjelasan dalam Tafsir Al-Qurtubi.

Menurutnya, Rasulullah ﷺ memberikan keteladanan melalui perbuatan nyata, bukan sekadar menyampaikan perkataan.

Konsep tersebut, kata Dosen senior UIN Ar Raniry itu, dapat diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

Salah satu contohnya adalah ketika orang tua ingin membangun kebiasaan anak membaca Al-Qur'an.

Daripada hanya menyuruh anak untuk membaca Al-Qur'an sementara orang tua sibuk bermain ponsel, orang tua dapat terlebih dahulu memberikan contoh dengan membaca Al-Qur'an di dekat anak.

"Dari kesabaran itu, orang tua menunjukkan contoh. Misalnya orang tua membaca Al-Qur'an di dekat anak, bukan malah bermain HP. Anak melihat, kemudian perlahan dia akan meniru," jelas Ustadz Fahmi dalam pemaparannya.

Menurutnya, proses seperti itu membutuhkan kesabaran. Anak tidak selalu langsung mengikuti apa yang dicontohkan orang tua.

Namun, ketika sebuah kebiasaan terus dilakukan secara konsisten, anak akan melihat, mengenal dan perlahan terbiasa dengan perilaku tersebut.

Pendidikan Karakter Dimulai dari Pembiasaan

Ustadz Fahmi juga memperkenalkan konsep kasabiyah atau pembiasaan sebagai salah satu cara membentuk karakter anak sejak dini.

Menurutnya, pembentukan karakter tidak harus selalu dimulai dengan kemampuan orang tua memberikan teori atau penjelasan panjang kepada anak.

Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang di rumah justru dapat menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Bahkan, menurut Ustadz Fahmi, orang tua yang belum memiliki kemampuan membaca Al-Qur'an sekalipun tetap dapat berperan dalam membentuk anak menjadi penghafal Al-Qur'an.

Caranya adalah dengan membangun lingkungan dan kebiasaan yang mendukung anak untuk dekat dengan Al-Qur'an.

Dengan demikian, keterbatasan kemampuan orang tua tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak memberikan teladan dan pembiasaan yang baik kepada anak.

Rasulullah ﷺ Memberikan Contoh Saat Perang Khandaq

Untuk menjelaskan pentingnya keteladanan, Ustadz Fahmi juga mengangkat contoh dari Rasulullah ﷺ saat Perang Khandaq.

Ia menjelaskan bahwa ketika para sahabat mengalami rasa lapar hingga mengikat satu batu di bagian perut, Rasulullah ﷺ justru memperlihatkan bahwa beliau mengikat dua batu di perutnya.

Keteladanan tersebut membuat para sahabat tidak lagi larut dalam keluhan.

Menurut Ustadz Fahmi, contoh tersebut menggambarkan bahwa seorang pendidik tidak hanya meminta orang lain melakukan sesuatu, tetapi juga menunjukkan kesediaan untuk menjalani hal tersebut terlebih dahulu.

Prinsip yang sama dapat diterapkan orang tua ketika mendidik anak di rumah.

Sekolah Mengajarkan, Rumah Menguatkan

Pertanyaan wali murid tersebut pada akhirnya mengarah pada satu hal penting: pendidikan di sekolah dan rumah perlu saling menguatkan.

Kebiasaan yang dibangun guru di sekolah akan lebih mudah melekat jika anak menemukan pola yang serupa ketika berada di rumah.

Begitu pula sebaliknya, nilai-nilai yang ditanamkan orang tua di rumah dapat diperkuat melalui lingkungan sekolah.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya meminta anak mengikuti aturan yang berlaku di sekolah. Orang tua juga perlu menghadirkan kebiasaan yang mendukung aturan dan nilai tersebut di rumah.

Bagi Ustadz Fahmi, inti dari Uswatun Hasanah adalah bagaimana seseorang memberikan contoh melalui perilakunya sehingga orang lain secara alami menaruh hormat dan terdorong untuk mengikuti.