![]() |
| [Foto] Ustadz Wahyu Mimbar (kanan) ketika menjadi khatib di Masjid Baiturrahmah, Gp. Keuramat. Jum'at (9/10/2026) |
BANDA ACEH — Pernahkah kita merasa sudah cukup baik dalam beragama hanya karena melihat orang lain yang ibadahnya masih jauh dari kita? Atau sebaliknya, merasa hidup kita kurang beruntung karena terus membandingkan harta dan pencapaian dengan orang lain?
Dua kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana. Namun, jika dibiarkan, keduanya bisa membuat seseorang lalai memperbaiki diri dan terlalu sibuk mengejar urusan dunia.
Pesan tersebut menjadi salah satu pelajaran yang patut direnungkan dari khutbah Jumat yang disampaikan Ustadz Wahyu Mimbar, M.Ag., di Masjid Baiturrahmah, Gampong Keuramat, Banda Aceh, Jumat (9/10/2026).
Dalam khutbahnya, ia mengangkat nasihat tentang tanda-tanda kebinasaan atau kesengsaraan yang berkaitan dengan cara manusia memandang dosa, kehidupan dunia, dan kualitas ibadahnya.
Ada pelajaran penting dari nasihat ini: jangan sampai kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain, tetapi lupa mengevaluasi diri sendiri.
Dengar Khutbah Ustadz Wahyu Mimbar, M.Ag disini KLIK
1. Melupakan Dosa yang Pernah Diperbuat
Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Setiap orang memiliki kekurangan, pernah melakukan kekeliruan, dan mungkin menyimpan masa lalu yang tidak ingin diingat kembali.
Namun, ada hal yang perlu diwaspadai: ketika seseorang melupakan dosa-dosanya sampai tidak lagi merasa perlu memohon ampun kepada Allah SWT.
Melupakan kesalahan bukan berarti dosa tersebut tidak lagi perlu dipertanggungjawabkan. Justru, kesadaran terhadap kesalahan menjadi salah satu pintu untuk memperbaiki diri.
Ketika seseorang menyadari kekeliruannya, ia memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki perilaku, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sebaliknya, jika merasa dirinya selalu benar, seseorang bisa kehilangan dorongan untuk melakukan introspeksi.
Karena itu, mengingat dosa bukan berarti terus-menerus terjebak dalam masa lalu. Tujuannya adalah mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan kembali kepada Allah dengan penuh harap.
Jangan sibuk mengingat kesalahan orang lain, tetapi lupa mengevaluasi kesalahan sendiri.
2. Selalu Melihat ke Atas dalam Urusan Dunia
Siapa yang tidak ingin hidup berkecukupan? Memiliki rumah yang nyaman, pekerjaan yang baik, dan kehidupan keluarga yang sejahtera tentu menjadi harapan banyak orang.
Namun, masalah muncul ketika kebahagiaan selalu diukur dari apa yang dimiliki orang lain.
Melihat teman memiliki rumah baru, kita merasa tertinggal. Melihat orang lain berhasil dalam pekerjaan, kita merasa gagal. Ketika orang lain memiliki lebih banyak harta, kita merasa kehidupan sendiri tidak cukup baik.
Jika terus dipelihara, kebiasaan membandingkan diri seperti ini dapat membuat hati sulit bersyukur.
Dalam materi khutbah tersebut, perhatian juga diarahkan pada beberapa penyakit hati yang dapat tumbuh ketika manusia terlalu terpaut pada urusan dunia.
Tulul amal: panjang angan-angan
Tulul amal menggambarkan panjangnya angan-angan. Seseorang terus mengejar keinginan demi keinginan, seolah-olah masih memiliki waktu yang tidak terbatas.
Ingin lebih kaya, ingin lebih sukses, dan ingin memiliki lebih banyak hal. Semua itu sebenarnya tidak selalu salah. Yang perlu diwaspadai adalah ketika ambisi membuat seseorang mengabaikan batas halal dan haram serta melupakan kewajiban kepada Allah.
Hubbud dunya: terlalu mencintai dunia
Mencari rezeki dan membangun kehidupan yang layak merupakan bagian dari ikhtiar manusia. Akan tetapi, kecintaan kepada dunia menjadi persoalan ketika harta dan kedudukan mengambil tempat terlalu besar di dalam hati.
Seseorang bisa menjadi terlalu sibuk mengejar materi hingga mengabaikan keluarga, ibadah, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.
Takut mati karena terlalu terikat dengan dunia
Ketika dunia menjadi pusat kehidupan, kehilangan harta, jabatan, atau kenyamanan bisa terasa sebagai sesuatu yang paling menakutkan.
Padahal, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Kesadaran bahwa hidup memiliki batas seharusnya mendorong manusia memanfaatkan waktunya untuk melakukan kebaikan dan mempersiapkan bekal akhirat.
Lalu, apakah kita tidak boleh ingin sukses?
Tentu saja boleh. Kita tetap dapat bekerja keras, membangun usaha, meraih prestasi, dan memperbaiki taraf hidup. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita kehilangan rasa syukur dan mengabaikan nilai-nilai agama.
Bekerjalah untuk memperbaiki kehidupan, tetapi jangan sampai kehidupan dunia membuat kita lupa kepada tujuan akhirat.
3. Melihat ke Bawah dalam Urusan Agama
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain ternyata tidak selalu membuat seseorang merasa rendah diri. Dalam urusan agama, kebiasaan ini justru bisa menimbulkan rasa puas diri yang keliru.
Misalnya, seseorang berkata dalam hati, "Saya memang masih sering terlambat salat, tetapi setidaknya saya masih salat. Masih lebih baik daripada orang yang tidak salat sama sekali."
Sekilas, kalimat seperti itu terdengar seperti pembelaan diri. Namun, jika digunakan untuk membenarkan kelalaian, perbandingan tersebut justru dapat menghambat perbaikan diri.
Kita memang tidak perlu merendahkan diri secara berlebihan ketika melihat kekurangan dalam ibadah. Akan tetapi, kekurangan itu seharusnya menjadi alasan untuk memperbaiki diri, bukan pembenaran untuk terus berada dalam keadaan yang sama.
Dalam urusan agama, melihat orang yang lebih baik ibadahnya dapat menjadi motivasi untuk belajar dan meningkatkan kualitas amal.
Jika ada orang yang lebih disiplin menjaga salat, kita bisa belajar darinya. Jika ada orang yang lebih rajin membaca Al-Qur'an, kita dapat menjadikannya inspirasi.
Sementara itu, ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, sikap yang lebih tepat adalah mendoakan dan mengingatkan dengan cara yang baik, bukan menjadikannya ukuran bahwa diri kita sudah cukup saleh.
Sebab, yang perlu diperbaiki adalah kualitas ibadah kita sendiri, bukan sekadar posisi kita dibandingkan orang lain.
4. Menjadikan Muhasabah sebagai Kebiasaan
Tiga poin di atas bertemu pada satu persoalan yang sama, yakni bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupannya.
Ketika lupa terhadap dosa, seseorang kehilangan kesempatan untuk bertobat. Ketika terus membandingkan harta dengan orang yang lebih kaya, rasa syukur dapat memudar. Ketika membandingkan ibadah dengan orang yang dianggap lebih buruk, semangat memperbaiki diri bisa melemah.
Karena itu, muhasabah atau introspeksi diri perlu menjadi kebiasaan.
Muhasabah bukan berarti terus menyalahkan diri sendiri. Muhasabah adalah keberanian untuk mengakui kekurangan, mensyukuri nikmat, dan mengambil langkah nyata untuk menjadi lebih baik.
Kita bisa memulainya dengan pertanyaan sederhana setiap hari:
Apakah ada kesalahan hari ini yang perlu saya sesali dan perbaiki?
Apakah saya sudah bersyukur atas nikmat yang Allah berikan?
Apakah ibadah saya hari ini lebih baik daripada sebelumnya?
Apakah saya sudah menjaga hak keluarga dan orang lain?
Apakah kesibukan dunia membuat saya melupakan kewajiban kepada Allah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dijawab dengan sempurna. Yang terpenting, kita mau jujur kepada diri sendiri dan terus berusaha memperbaiki keadaan.
Pesan Khutbah Jumat di Masjid Baiturrahmah Gampong Keuramat
Khutbah Jumat Ustadz Wahyu Mimbar, M.Ag., di Masjid Baiturrahmah, Gampong Keuramat, Banda Aceh, pada Jumat, 9 Oktober 2026, menjadi pengingat bahwa kesengsaraan tidak selalu bermula dari persoalan besar yang terlihat oleh orang lain.
Ada pula persoalan yang tumbuh perlahan di dalam hati: mengabaikan dosa, terlalu mengejar dunia, dan merasa cukup dengan kualitas ibadah sendiri.
Ketiganya patut menjadi bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran utama untuk menilai diri sendiri. Dalam urusan dunia, rasa syukur membantu kita menghargai nikmat yang telah dimiliki. Dalam urusan agama, semangat memperbaiki diri membantu kita terus bertumbuh dalam ketaatan.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari kelalaian, membimbing kita untuk senantiasa bertobat, serta memberikan kekuatan untuk menyeimbangkan ikhtiar dunia dan persiapan menuju akhirat.
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan ringkasan materi khutbah yang disampaikan. Untuk menjaga ketepatan penyebutan hadis, redaksi hadis dan sumber kitabnya perlu dicocokkan dengan rujukan asli sebelum dikutip sebagai sabda Rasulullah SAW secara langsung.
