Orang Tua Wajib Baca! 4 Kisah Hikmah tentang Pengasuhan dari Ustadz Fahmi Sofyan

jangan remehkan anak mu
[Foto] Wali Murid mengikuti kegiatan seminar parenting di SDTQ Nurun Nabi, Sabtu (26/9)

Banda Aceh
- Mendidik anak bukan hanya soal memberikan nasihat. Cara orang tua bersikap ketika anak melakukan kesalahan, menjaga ucapan, hingga mengajarkan anak untuk tetap berpegang pada agama menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Hal itu disampaikan Ustadz Dr. Fahmi Sofyan, Lc., MA. dalam Seminar Parenting dan Sosialisasi Program Sekolah SDTQ Nurun Nabi, Sabtu (26/9/2026).

Dalam materinya, Ustadz Fahmi mengangkat sejumlah kisah yang dapat menjadi pelajaran bagi orang tua. Di antaranya kisah Nabi Yaqub AS, Imam Masjidil Haram As-Sudais, seorang anak yang tetap merawat ayahnya hingga akhir hayat, serta kisah Luqman al-Hakim dalam mendidik anaknya.

Belajar dari kesabaran Nabi Yaqub

Salah satu kisah yang disampaikan adalah tentang Nabi Yaqub AS ketika menghadapi persoalan anak-anaknya.

Menurut Ustadz Fahmi, Nabi Yaqub menunjukkan sikap fasabrun jamil, yakni kesabaran yang indah, ketika menghadapi peristiwa yang berkaitan dengan Nabi Yusuf AS.

Meskipun anak-anaknya telah melakukan kesalahan besar terhadap Yusuf, Nabi Yaqub tidak menghadapi mereka dengan memukul atau memaki.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa kesalahan anak tidak selalu harus direspons dengan kemarahan dan tindakan keras.

Orang tua tetap dapat bersikap tegas, tetapi pada saat yang sama menjaga kesabaran dan tidak kehilangan kendali terhadap ucapan maupun tindakan.

Doa seorang ibu yang menjadi harapan

Ustadz Fahmi kemudian menceritakan kisah Imam Masjidil Haram, As-Sudais, yang dikaitkan dengan doa ibunya.

Dalam kisah yang disampaikan, ketika sang ibu sedang marah kepada anaknya, kemarahan tersebut justru dilontarkan dalam bentuk doa agar kelak anaknya menjadi Imam Masjidil Haram.

Kisah ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk berhati-hati dengan ucapan ketika sedang emosi.

Daripada melontarkan kalimat buruk kepada anak, kemarahan dapat diarahkan menjadi doa dan harapan yang baik.

Sebab, orang tua merupakan sosok yang paling sering memberikan kata-kata kepada anak, terutama ketika anak melakukan kesalahan.

Anak yang dulu diremehkan justru menjadi tempat bergantung

Kisah berikutnya yang disampaikan Ustadz Fahmi tak kalah menyentuh.

Ia menceritakan seorang ayah yang sering merendahkan anaknya dan menyebut anak tersebut memiliki rupa yang jelek.

Namun, kehidupan kemudian membawa keadaan yang berbeda.

Dalam kisah tersebut, setelah istri dan anak-anak lainnya meninggal dunia akibat tsunami, anak yang dahulu sering direndahkan justru menjadi satu-satunya orang yang merawat ayahnya hingga akhir hayat.

Kisah tersebut menggambarkan bahwa orang tua tidak pernah tahu bagaimana masa depan hubungan mereka dengan anak.

Karena itu, merendahkan, mempermalukan atau terus-menerus memberikan label buruk kepada anak bukanlah cara yang baik dalam mendidik.

Anak yang hari ini dianggap memiliki kekurangan bisa saja justru menjadi sosok yang paling berarti bagi orang tuanya di kemudian hari.

Luqman ajarkan anak taat meski dicibir orang

Ustadz Fahmi juga mengangkat kisah Luqman al-Hakim dalam mendidik anaknya.

Salah satu pesan pentingnya adalah mengajarkan anak untuk memprioritaskan perintah agama, termasuk salat, tanpa terlalu mempedulikan cibiran atau komentar masyarakat.

Kisah perjalanan Luqman bersama anaknya menggunakan seekor keledai menggambarkan bagaimana manusia akan selalu memiliki komentar terhadap pilihan orang lain.

Ketika posisi mereka berubah, komentar masyarakat juga berubah.

Dari sini, anak diajarkan bahwa tidak semua perkataan manusia harus menjadi pertimbangan utama dalam menjalani kehidupan.

Ada prinsip yang harus tetap dipegang, terutama ketika berkaitan dengan perintah agama.

Pendidikan anak dimulai dari sikap orang tua

Empat kisah tersebut memiliki pesan yang saling berkaitan.

Nabi Yaqub mengajarkan kesabaran, kisah As-Sudais mengingatkan pentingnya menjaga doa dan ucapan, kisah seorang anak yang merawat ayahnya mengingatkan agar orang tua tidak merendahkan anak, sementara Luqman al-Hakim mengajarkan pentingnya membimbing anak tetap berpegang pada agama meskipun menghadapi komentar orang lain.

Bagi orang tua, pendidikan anak pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak nasihat yang diberikan.

Anak juga belajar dari bagaimana orang tuanya marah, bagaimana orang tuanya menghadapi masalah, bagaimana orang tuanya berbicara dan bagaimana orang tuanya mempertahankan prinsip.

Karena itu, sebelum meminta anak menjadi baik, orang tua juga perlu menunjukkan bagaimana kebaikan itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.