Kisah Lelaki yang Menziarahi Saudaranya karena Allah, Malaikat Membawa Kabar Gembira
BANDA ACEH – Pernahkah kita menempuh perjalanan jauh hanya untuk bertemu seseorang, tanpa mengharapkan hadiah, bantuan, atau balasan apa pun darinya? Dalam Islam, kunjungan yang dilandasi ketulusan dan kecintaan karena Allah SWT memiliki keutamaan yang luar biasa.
Kisah inspiratif ini menjadi salah satu penggalan materi yang disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA., dalam Majelis Mahabbah bertema “Sang Guru Terbaik”, yang digelar pada Kamis, 15 Oktober 2026, di Zawiyah Nurun Nabi, Lambhuk, Banda Aceh.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan penceramah, yakni Tgk. H. Jamhuri Ramli, SQ., MA., Habib Fahmi Assegaf, serta Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA.
Dalam pembahasannya tentang mahabbah atau cinta, Ustadz Khairul Rafiqi mengajak jamaah memahami keutamaan mencintai sesama Muslim karena Allah SWT. Salah satu kisah yang memberikan pelajaran mendalam adalah tentang seorang lelaki yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya semata-mata karena Allah.
Kisah tersebut mengingatkan bahwa persaudaraan yang dibangun di atas keimanan bukan sekadar hubungan sosial, melainkan juga jalan untuk meraih rida Allah SWT.
Kisah Lelaki yang Menempuh Perjalanan demi Saudaranya
Dikisahkan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, ada seorang lelaki yang hendak mengunjungi saudaranya di sebuah kampung lain.
Dalam perjalanannya, Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Malaikat tersebut bertanya tentang tujuan kunjungannya.
Lelaki itu menjelaskan bahwa ia ingin menemui saudaranya di kampung tersebut.
Malaikat kemudian bertanya apakah lelaki itu memiliki kepentingan atau mengharapkan suatu keuntungan dari orang yang hendak dikunjunginya.
Lelaki itu menjawab bahwa ia tidak memiliki kepentingan duniawi. Ia tidak sedang menagih utang, mengharapkan pemberian, atau menuntut balas atas kebaikan yang pernah diterimanya.
Ia hanya mencintai saudaranya karena Allah SWT.
Jawaban tersebut menunjukkan ketulusan hatinya. Ia menjalin hubungan bukan semata-mata karena keuntungan pribadi, melainkan karena keimanan dan kecintaan kepada Allah.
Kemudian, malaikat menyampaikan kabar gembira kepadanya bahwa Allah mencintainya sebagaimana ia mencintai saudaranya karena-Nya.
Betapa indah balasan tersebut. Perjalanan yang mungkin terlihat sederhana di mata manusia ternyata menjadi kesempatan untuk mendapatkan kabar tentang kecintaan Allah SWT.
Mencintai Saudara karena Allah, Apa Maksudnya?
Mencintai seseorang karena Allah berarti menyayangi dan menjaga hubungan dengannya atas dasar keimanan serta mengharapkan rida Allah, bukan hanya karena harta, kedudukan, kepentingan, atau keuntungan tertentu.
Cinta seperti ini tidak berarti kita harus selalu setuju dengan semua tindakan orang yang kita sayangi. Sebaliknya, kecintaan karena Allah tetap disertai nasihat yang baik, kejujuran, dan keinginan agar sesama Muslim berada dalam kebaikan.
Seseorang yang mencintai saudaranya karena Allah akan berusaha menjaga hubungan ketika keadaan berubah. Ia tidak serta-merta menjauh hanya karena saudaranya sedang kesulitan atau tidak lagi mampu memberikan manfaat duniawi.
Cinta tersebut diwujudkan dengan sikap tulus, saling membantu, mendoakan, dan mengingatkan dalam kebaikan.
Inilah persaudaraan yang tidak hanya memberikan manfaat di dunia, tetapi juga diharapkan menjadi sebab datangnya pahala dari Allah SWT.
Lima Pelajaran Penting dari Kisah Ini
1. Niat yang tulus memiliki nilai besar di sisi Allah
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa nilai sebuah perbuatan tidak hanya dilihat dari bentuknya, tetapi juga dari niat yang melandasinya.
Mengunjungi sahabat, menjenguk orang sakit, atau menyempatkan diri bertemu kerabat bisa menjadi amalan yang bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik.
Karena itu, sebelum melakukan suatu kebaikan, luruskanlah niat dan jangan selalu mengukur manfaatnya dengan keuntungan duniawi.
2. Persaudaraan tidak seharusnya dibangun atas dasar kepentingan
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang hubungan menjadi dekat ketika seseorang memiliki sesuatu yang bisa diberikan. Namun, hubungan dapat merenggang ketika manfaat tersebut tidak lagi tersedia.
Kisah lelaki tadi mengajarkan bahwa persaudaraan karena Allah memiliki dasar yang lebih kuat daripada kepentingan sesaat.
Kita tetap dapat menyayangi, menghormati, dan membantu saudara Muslim meskipun ia tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan sebagai balasan.
3. Menziarahi saudara merupakan kesempatan berbuat baik
Kesibukan sering membuat kita menunda mengunjungi orang tua, saudara, kerabat, atau sahabat.
Padahal, kehadiran kita bisa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Kunjungan yang sederhana dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, menghilangkan kesalahpahaman, dan menunjukkan kepedulian.
Tentu, kunjungan hendaknya dilakukan dengan memperhatikan waktu, kondisi, dan kenyamanan orang yang dikunjungi.
4. Cinta karena Allah harus diwujudkan melalui tindakan
Cinta bukan sekadar ucapan. Ia perlu terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Ketika saudara mengalami kesulitan, kita berusaha membantu sesuai kemampuan. Ketika ia bersedih, kita berusaha menghibur. Ketika ia melakukan kesalahan, kita memberikan nasihat dengan cara yang baik.
Tidak semua bentuk kebaikan membutuhkan biaya besar. Terkadang, waktu, perhatian, doa, dan kesediaan untuk mendengarkan sudah menjadi bentuk kepedulian yang berarti.
5. Mengharapkan rida Allah adalah tujuan utama
Kabar gembira yang diterima lelaki tersebut menunjukkan betapa mulianya mencintai sesama karena Allah.
Namun, kita tidak perlu menganggap setiap kunjungan secara otomatis menjamin hasil tertentu. Yang dapat kita lakukan adalah menjaga keikhlasan, memperbaiki niat, dan berharap agar Allah menerima amal kita.
Dengan demikian, setiap kesempatan untuk menyambung persaudaraan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
