Ustadz Khairul Rafiqi Ungkap Rahasia Rasulullah Mengajar, Semua Kalangan Bisa Memahami
BANDA ACEH – Apa yang membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam begitu istimewa dalam mendidik umat? Bukan hanya kedalaman ilmu, tetapi juga kemampuan menyampaikan pesan sehingga dapat dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Hal itu disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA., dalam ceramahnya pada Majelis Mahabbah bertema Sang Guru Terbaik, Kamis (15/10/2026), di Zawiyah Nurun Nabi, Lambhuk, Banda Aceh.
Dalam ceramah tersebut, Ustadz Khairul mengajak jamaah mengenal lebih dekat metode pendidikan Rasulullah melalui sebuah kitab karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah berjudul Ar-Rasul Al-Mu'allim.
Menurutnya, kitab tersebut memuat berbagai hadis yang menggambarkan bagaimana Rasulullah mengajar, mendidik, dan menyampaikan ilmu dengan cara yang luar biasa.
“Pasti kalau kita baca kitab tersebut, saya waktu baca kitab tersebut, masyaallah, ini lho nabi kita. Bangga kita punya nabi seperti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam,” ujar Ustadz Khairul.
Kitab yang Mengungkap Cara Rasulullah Mendidik
Ustadz Khairul menyebut Ar-Rasul Al-Mu'allim sebagai salah satu rujukan yang menarik bagi siapa saja yang ingin mempelajari metode pendidikan Rasulullah secara lebih mendalam.
Ia mengajak para orang tua, guru, dan pendidik untuk membaca kitab tersebut agar dapat mengambil pelajaran dari cara Rasulullah menyampaikan ilmu dan menanamkan nilai-nilai kebaikan.
“Kalau bapak ibu hadirin sekalian pengin betul-betul detail melihat bagaimana pintarnya Rasulullah mendidik, mengajarkan, mentransfer nilai atau ilmu yang ada pada beliau, ada kitab yang sangat bagus, bagus betul. Ditulis oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah,” katanya.
Ia mengaku takjub ketika membaca kitab tersebut karena menemukan banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan.
“Ah ini lengkap betul waktu saya baca, masyaallah ini kalau bisa kita praktik luar biasa nih, cuman kita enggak sanggup, enggak sabar kita,” lanjutnya.
Kemampuan Berkomunikasi Menjadi Bagian Penting dalam Mengajar
Dalam ceramahnya, Ustadz Khairul juga menyoroti kemampuan komunikasi sebagai salah satu unsur penting dalam proses pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa cara seseorang menyampaikan pesan sangat menentukan apakah ilmu yang diajarkan dapat dipahami oleh orang lain.
Menurutnya, Rasulullah memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Penjelasan beliau dapat dipahami oleh orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, baik anak-anak, orang tua, masyarakat sederhana, maupun orang yang memiliki pengetahuan luas.
“Dan Rasulullah dalam komunikasi pintar betul. Sangat pintar. Orang enggak sekolah paham, yang tinggal di pegunungan paham, yang sekolahnya tinggi kalau di zaman kita yang pendidikannya tinggi pun paham apa yang beliau sampaikan. Anak kecil paham, orang tua pun paham,” ungkapnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa seorang pendidik perlu mengevaluasi cara menyampaikan materi apabila hanya kelompok tertentu yang dapat memahaminya.
“Jadi kalau kita bahasa kita cuman dipahami sama orang yang sekolah saja berarti kita belum belum begitu pintar. Atau bahasa kita cuma bisa dipahami oleh anak-anak saja itu kita belum pintar. Tapi ketika bahasa kita dipahami oleh semua kalangan, masyaallah, itu betul-betul cerdas,” jelas Ustadz Khairul.
Bahasa dan Logika dalam Mengukur Kemampuan Seseorang
Ustadz Khairul turut menjelaskan pentingnya kemampuan berbahasa dan berpikir logis. Ia mencontohkan bahwa tes kecerdasan atau seleksi pendidikan kerap melibatkan soal bahasa dan numerik untuk melihat kemampuan seseorang memahami informasi serta menyelesaikan persoalan.
“Dan kalau kita ingin melihat kecerdasan seseorang itu salah satu untuk ukurannya yaitu apa? Komunikasi. Makanya jemaah dirahmati Allah kemampuan kita berbahasa itu sangat penting. Menentukan kecerdasan kita,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa bahasa yang baik bukan sekadar terdengar ilmiah atau menggunakan istilah yang sulit. Hal yang lebih penting ialah memastikan pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh orang yang mendengarkannya.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi guru dan orang tua. Materi yang baik perlu disampaikan dengan bahasa yang sesuai dengan usia, pengalaman, dan tingkat pemahaman anak.
Dengan demikian, kegiatan mengajar tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi benar-benar membantu peserta didik memahami pelajaran.
Rasulullah Mengajar hingga Ilmunya Diamalkan
Lebih jauh, Ustadz Khairul menekankan bahwa keistimewaan metode pengajaran Rasulullah tidak hanya terletak pada kemampuan menjelaskan sesuatu dengan terang, tetapi juga pada dampak pendidikan yang dihasilkan.
Ia menyebutkan bahwa dalam kitab Ar-Rasul Al-Mu'allim terdapat berbagai contoh tentang bagaimana Rasulullah berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam.
“Dan di dalam kitab tersebut dijelaskan contoh anak-anak siapa, orang tuanya siapa, orang Arab pedalamannya siapa. Itu betul-betul semua yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah bukan hanya dipahami, mereka langsung mengamalkan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi bahan renungan bagi para pendidik masa kini. Dalam praktik sehari-hari, orang tua dan guru terkadang perlu mengulang pelajaran berkali-kali agar anak memahami dan mampu melakukannya.
Ustadz Khairul menggambarkan situasi tersebut melalui pengalamannya melihat tantangan dalam mendidik anak.
“Kita suruh, kita ngajar anak-anak puluhan kali kita ulang, enggak bisa-bisa, langsung kita bilang memang dari sananya kamu udah kayak gitu. Langsung keluar,” katanya.
Padahal, menurut pesan yang disampaikan dalam ceramah tersebut, kesulitan anak memahami pelajaran seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pendidik, termasuk dalam memilih bahasa, metode, dan pendekatan yang digunakan.
Meneladani Rasulullah sebagai Sang Guru Agung
Ustadz Khairul menutup penjelasannya dengan kembali mengingatkan jamaah tentang keistimewaan Rasulullah sebagai pendidik dan teladan bagi umat Islam.
Kisah dan metode pengajaran Rasulullah, sebagaimana dibahas dalam Ar-Rasul Al-Mu'allim, dapat menjadi inspirasi bagi guru, orang tua, serta siapa saja yang memiliki tanggung jawab menyampaikan ilmu.
Pelajarannya sederhana tetapi mendalam: mengajar bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dikuasai, melainkan juga bagaimana ilmu itu disampaikan agar dipahami dan diamalkan.
“Masyaallah, itulah Rasul Al-Mualim, sang guru agung Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,” pungkas Ustadz Khairul Rafiqi.
