Kisah Pengemis pada Masa Rasulullah dan Pentingnya Bekerja

ustadz alvin nur saat menyampaikan khutbah jum'at di Masjid baiturrahmah gampong keuramat
[Foto] Ustadz Alvin Nur (kanan) Ustadz Syahirul Haq (tengah) dan Hasanusi Muhammad (kiri) setelah pelaksanaan Shalat Jum'at (16/10/2026) di Masjid Baiturrahmah Gp. Keuramat
Kisah Pengemis pada Masa Rasulullah, Pelajaran tentang Pentingnya Bekerja dan Menghindari Meminta-minta

BANDA ACEH – Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha, menjaga kehormatan diri, serta tidak menjadikan meminta-minta sebagai pilihan selama masih mampu bekerja.

Pesan tersebut disampaikan Ustadz Alvin Nur, Lc., MA., saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Baiturrahmah, Gampong Keuramat, Banda Aceh, pada Jumat (16/10/2026).

Dalam khutbahnya, Ustadz Alvin mengangkat kisah seorang pengemis pada masa Rasulullah SAW. Kisah tersebut memberikan pelajaran tentang bagaimana seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi dapat dibantu agar mampu bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya secara mandiri.

Kisah Pengemis yang Dibantu Rasulullah SAW

Dalam kisah yang disampaikan, Rasulullah SAW bertemu dengan seorang pengemis yang meminta bantuan. Rasulullah kemudian menanyakan harta benda yang masih dimilikinya di rumah.

Orang tersebut menjelaskan bahwa ia hanya mempunyai satu pakaian dan sebuah cangkir. Mendengar jawaban itu, Rasulullah memintanya membawa kedua barang tersebut.

Barang-barang itu kemudian ditawarkan kepada para sahabat. Salah seorang sahabat membelinya dengan harga dua dirham.

Uang hasil penjualan tersebut tidak diberikan begitu saja tanpa arahan. Rasulullah membaginya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjadi modal usaha bagi orang tersebut.

Satu dirham digunakan untuk membeli makanan bagi keluarganya, sedangkan satu dirham lainnya digunakan untuk membeli kapak.

Rasulullah kemudian mengarahkan orang itu agar mencari kayu bakar, lalu menjualnya untuk memperoleh penghasilan. Ia juga diperintahkan untuk kembali setelah 15 hari dan tidak meminta-minta selama masa tersebut.

Dari Meminta-minta Menjadi Pencari Nafkah

Setelah 15 hari, orang tersebut kembali menemui Rasulullah SAW dengan membawa hasil dari pekerjaannya.

Dari penjualan kayu bakar, ia berhasil memperoleh 10 dirham. Sebagian uang itu dapat digunakan untuk membeli makanan bagi keluarganya, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan lain.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa bantuan yang tepat bukan hanya meringankan kesulitan seseorang untuk sementara waktu, melainkan juga membuka jalan agar ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Dalam kisah tersebut, Rasulullah memberikan bantuan sekaligus arahan, alat kerja, dan kesempatan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Bekerja Lebih Baik daripada Terus Meminta-minta

Kisah ini mengandung pesan penting bagi umat Islam, khususnya tentang hubungan antara ikhtiar, tanggung jawab, dan kehormatan diri.

Seseorang yang mengalami kesulitan ekonomi perlu mendapatkan pertolongan. Namun, apabila masih memiliki kemampuan untuk bekerja, ia juga perlu didorong agar berusaha mencari penghasilan yang halal.

Bantuan kepada orang yang membutuhkan tidak harus berhenti pada pemberian uang atau makanan. Bantuan dapat berupa modal usaha, peralatan kerja, pelatihan keterampilan, maupun pendampingan agar seseorang mampu memperoleh penghasilan secara mandiri.

Dengan cara tersebut, bantuan tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga membantu membangun kehidupan yang lebih baik pada masa mendatang.

Islam Mengajarkan Kemandirian dan Menjaga Kehormatan Diri

Pesan lain yang dapat dipetik dari kisah ini adalah pentingnya mencukupi kebutuhan keluarga melalui jalan yang halal.

Seorang muslim hendaknya berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang baik, bertanggung jawab terhadap keluarganya, serta menghindari penghasilan yang diperoleh melalui cara yang dilarang agama.

Meski demikian, orang yang benar-benar tidak mampu bekerja, mengalami sakit, memiliki keterbatasan fisik, atau sedang menghadapi keadaan darurat tetap berhak mendapatkan bantuan. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menelantarkan orang yang membutuhkan pertolongan.

Karena itu, semangat bekerja perlu berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Orang yang mampu hendaknya membantu, sedangkan orang yang masih memiliki kemampuan hendaknya diberi kesempatan untuk berusaha.

Pelajaran bagi Masyarakat pada Masa Kini

Kisah pengemis pada masa Rasulullah SAW tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan bantuan sesaat, tetapi juga memerlukan upaya untuk membuka akses terhadap pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Keluarga, masyarakat, lembaga sosial, dan pemerintah dapat mengambil peran dengan memberikan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan penerima.

Bagi sebagian orang, bantuan berupa bahan makanan mungkin menjadi kebutuhan mendesak. Bagi yang lain, peralatan kerja, pelatihan, atau modal usaha bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.

Pada akhirnya, pesan utama dari kisah ini adalah pentingnya ikhtiar, bekerja dengan cara yang halal, dan saling membantu dalam kebaikan.

Bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan juga bentuk tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga diri dari penghasilan yang tidak halal. Pada saat yang sama, kepedulian terhadap orang yang kesulitan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan seorang muslim.