![]() |
| [foto] Ustadz Khairul Rafiqi (kanan) bersama jama'ah Masjid Baiturrahmah usai menyampaikan khutbah Idul Adha, Senin (17/6/2024) |
BANDA ACEH – Seorang lelaki dari kalangan Arab Badui melakukan sesuatu yang membuat orang-orang di masjid terkejut. Ia buang air kecil di salah satu sudut masjid. Sejumlah sahabat yang melihat kejadian itu segera bereaksi, tetapi Rasulullah SAW justru meminta mereka membiarkannya hingga selesai.
Kisah tersebut disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA., dalam ceramahnya pada Majelis Mahabbah bertema “Sang Guru Terbaik” di Zawiyah Nurun Nabi, Lambhuk, Banda Aceh, Kamis (15/10/2026).
Dalam penjelasannya, Ustadz Khairul menyoroti kebijaksanaan Rasulullah SAW ketika menghadapi orang yang belum memahami adab dan aturan di masjid.
Sahabat Hendak Menghentikan, Rasulullah Meminta Mereka Membiarkannya
Kisah lelaki Badui yang buang air kecil di masjid ini diriwayatkan dalam hadis sahih dari Anas bin Malik dan Abu Hurairah, antara lain dalam Sahih al-Bukhari nomor 219 dan 220 menurut penomoran yang umum digunakan. <Cite refs={["turn724752search0","turn724752search2"]}/>
Ketika melihat kejadian tersebut, para sahabat bereaksi dan hendak menghentikan lelaki itu. Namun, Rasulullah SAW meminta mereka membiarkannya hingga selesai.
Sikap ini menjadi bagian penting dari kisah tersebut. Rasulullah SAW tidak membiarkan perbuatan itu tanpa penanganan, tetapi juga tidak ingin tindakan spontan para sahabat menimbulkan keadaan yang lebih buruk.
Setelah lelaki itu selesai, Rasulullah SAW meminta air untuk menyiram bagian lantai yang terkena najis.
Tindakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebersihan masjid tetap diselesaikan, tetapi dengan cara yang tidak memperkeruh keadaan.
Rasulullah Menjelaskan Fungsi Masjid
Dalam ceramahnya, Ustadz Khairul Rafiqi menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW kemudian memberikan penjelasan kepada lelaki tersebut.
Masjid bukan tempat untuk membuang kotoran, melainkan tempat untuk melaksanakan salat dan berbagai kegiatan yang membawa kebaikan.
Penjelasan itu menjadi bagian dari pendidikan yang diberikan Rasulullah SAW kepada seseorang yang belum memahami aturan. Kesalahan tetap diperbaiki, tetapi orang yang melakukannya tidak perlu dihina atau direndahkan.
Doa Lelaki Badui yang Mengundang Perhatian
Dalam kisah yang disampaikan Ustadz Khairul, lelaki tersebut kemudian menunjukkan respons yang menggambarkan kesan mendalam terhadap perlakuan Rasulullah SAW.
Ia berdoa agar rahmat Allah diberikan kepadanya dan Rasulullah SAW, bahkan menyebut agar orang lain tidak ikut mendapatkan rahmat tersebut.
Doa itu menggambarkan betapa kuat kesan yang ia rasakan setelah berhadapan dengan Rasulullah SAW. Meski melakukan kesalahan, ia tidak menghadapi penghinaan seperti yang mungkin dikhawatirkannya.
Bagian ini menjadi pengingat bahwa cara seseorang diperlakukan ketika melakukan kesalahan dapat memengaruhi bagaimana ia menerima nasihat.
Pelajaran dari Cara Rasulullah Menegur
Ustadz Khairul Rafiqi mengangkat kisah ini untuk menunjukkan kebijaksanaan Rasulullah SAW dalam mendidik umat.
Ada beberapa hal yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Pertama, jangan terburu-buru menghukum seseorang yang belum memahami suatu aturan. Kedua, selesaikan persoalan dengan cara yang tepat. Ketiga, berikan penjelasan agar kesalahan tidak terulang.
Prinsip tersebut juga relevan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Ketika seseorang melakukan kesalahan, teguran sebaiknya tidak hanya bertujuan melampiaskan kemarahan, tetapi juga membantu orang tersebut memahami apa yang perlu diperbaiki.
Melalui kisah lelaki Badui ini, Ustadz Khairul mengajak jamaah melihat bahwa ketegasan dan kelembutan dapat berjalan bersama. Rasulullah SAW tetap menjaga kesucian masjid sekaligus memberikan kesempatan kepada orang yang belum memahami aturan untuk belajar.
