![]() |
| [Foto] Ustadz Khairul Rafiqi (kiri) bersama dengan salah seorang Jama'ah Masjid Baiturrahm Gp. Keuramat disela-sela kajian subuh, Sabtu (19/3/2022) |
BANDA ACEH – Seorang Muslim yang baru mengenal Islam pernah melakukan kesalahan ketika sedang salat. Saat mendengar orang lain bersin, ia spontan mengucapkan “Yarhamukallah”, doa yang biasa diucapkan kepada orang yang bersin.
Namun, ucapan tersebut membuat orang-orang di sekitarnya memandangnya dengan tajam. Ia bahkan tidak memahami mengapa orang-orang bereaksi seperti itu.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian yang dibahas Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA., saat mengisi Majelis Mahabbah bertema “Sang Guru Terbaik” di Zawiyah Nurun Nabi, Lambhuk, Banda Aceh, Kamis (15/10/2026).
Dari peristiwa itu, jamaah diajak melihat bagaimana Rasulullah SAW menghadapi kesalahan seorang Muslim yang masih dalam proses belajar agama.
Salah Mengucapkan Doa saat Salat
Dalam ceramahnya, Ustadz Khairul mengisahkan seorang lelaki yang baru masuk Islam dan belum memahami seluruh aturan dalam pelaksanaan ibadah.
Ketika sedang salat berjamaah, ia mendengar seseorang bersin. Secara spontan, ia mengucapkan “Yarhamukallah”, yang berarti “Semoga Allah merahmatimu”.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia menyadari orang-orang di sekitarnya memandangnya dengan tajam. Karena tidak memahami penyebab reaksi itu, ia justru meminta mereka berhenti memandangnya.
Orang-orang yang berada di sekitarnya kemudian menepuk paha dengan tangan sebagai isyarat agar ia diam. Situasi tersebut membuat lelaki itu semakin kebingungan.
Menurut kisah yang disampaikan Ustadz Khairul, lelaki itu belum mengetahui bahwa berbicara dengan ucapan seperti itu tidak diperbolehkan ketika sedang melaksanakan salat.
Rasulullah Memilih Menjelaskan, Bukan Mempermalukan
Di tengah situasi tersebut, Rasulullah SAW tetap bersikap tenang. Beliau tidak ikut memandang lelaki itu dengan tatapan merendahkan ataupun menyindirnya di hadapan orang banyak.
Setelah salat selesai, Rasulullah SAW mendatangi lelaki tersebut dan menjelaskan aturan yang belum diketahuinya.
Beliau bersabda:
“Inna shalatana hadzihi la yasluhu fiha syai'un min kalamin nas.”
Artinya, “Sesungguhnya salat kita ini tidak pantas diisi dengan perkataan manusia.”
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa salat merupakan ibadah yang di dalamnya terdapat tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'an.
Dengan penjelasan tersebut, lelaki itu akhirnya memahami kesalahannya tanpa harus dipermalukan di hadapan orang-orang yang hadir.
Pengalaman yang Membuatnya Mengagumi Rasulullah
Dalam kisah yang disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, lelaki tersebut kemudian mengungkapkan kekagumannya terhadap cara Rasulullah SAW mengajarkan agama.
Ia merasa tidak pernah mendapatkan pengajar yang lebih baik daripada Rasulullah SAW, baik sebelum maupun sesudah peristiwa tersebut.
Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana sikap seorang guru dapat meninggalkan kesan mendalam bagi orang yang sedang belajar.
Rasulullah SAW tidak membiarkan kesalahan itu tanpa penjelasan. Namun, beliau juga tidak menjadikan kesalahan seorang Muslim yang baru belajar sebagai alasan untuk merendahkannya.
Pelajaran tentang Cara Mendidik
Kisah tersebut menjadi pengingat bagi orang tua, guru, dan para pendidik agar memperhatikan cara menyampaikan teguran.
Seseorang yang belum mengetahui suatu aturan perlu diberikan penjelasan agar memahami kesalahannya. Teguran yang disampaikan dengan baik dapat membantu proses belajar tanpa menambah rasa malu atau kebingungan.
Hal ini terutama penting ketika mendampingi anak-anak yang masih belajar menjalankan ibadah. Mereka membutuhkan arahan yang jelas, kesabaran, dan contoh yang baik.
Melalui kisah tersebut, Ustadz Khairul Rafiqi mengajak jamaah melihat salah satu sisi keteladanan Rasulullah SAW dalam mendidik umatnya.
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga menunjukkan bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.
