Ustadz Khairul Rafiqi Ungkap Cara Rasulullah Menasihati Tanpa Menghakimi

ustadz khairul rafiqi menjelaskan cara rasulullah memberikan nasehat kepada seorang arab badui tanpa menghakimi
Ustadz Khairul Rafiqi Ceritakan Cara Rasulullah Menasihati Pemuda yang Meminta Izin Berzina

BANDA ACEH – Seorang pemuda pernah meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk melakukan zina. Permintaan itu disampaikan secara terbuka di hadapan orang-orang yang hadir bersama Nabi.

Alih-alih mencaci atau mempermalukannya, Rasulullah SAW justru mengajaknya berbicara dan mengarahkannya untuk memahami persoalan tersebut dari sudut pandang orang lain.

Kisah ini disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, Lc., MA., dalam ceramahnya pada Majelis Mahabbah bertema “Sang Guru Terbaik”, Kamis (15/10/2026), di Zawiyah Nurun Nabi, Lambhuk, Banda Aceh.

Dalam pemaparannya, Ustadz Khairul menyoroti cara Rasulullah SAW membimbing pemuda tersebut. Kisah itu memperlihatkan bagaimana nasihat yang disampaikan dengan bijaksana dapat membantu seseorang memahami kesalahan tanpa harus direndahkan di hadapan orang banyak.

Rasulullah Tidak Mencaci Pemuda Tersebut

Ustadz Khairul mengisahkan, pemuda itu datang kepada Rasulullah SAW dan meminta izin untuk berzina. Permintaan tersebut tentu bukan perkara ringan, mengingat zina merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Namun, Rasulullah SAW tidak langsung menghina atau mencacinya. Beliau justru memanggil pemuda tersebut agar mendekat.

Menurut Ustadz Khairul, sikap tersebut menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi seseorang yang melakukan kesalahan. Beliau tidak membiarkan kesalahan itu, tetapi memilih cara yang dapat menyentuh pemahaman orang yang dinasihati.

Ustadz Khairul juga mengingatkan bahwa Rasulullah SAW tidak diutus untuk menjadi pribadi yang gemar mencaci dan melaknat. Beliau mengutip ungkapan Arab yang disampaikan dalam ceramahnya:

“Innamā bu‘itstu rahmatan.”

Artinya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat.”

Pesan tersebut menegaskan pentingnya kasih sayang dan kebijaksanaan dalam membimbing orang lain.

Rasulullah Mengajak Pemuda Itu Berpikir

Setelah pemuda tersebut mendekat, Rasulullah SAW mengajukan sejumlah pertanyaan kepadanya.

Beliau menanyakan bagaimana perasaan pemuda itu apabila ada orang lain berzina dengan ibunya. Pemuda tersebut menjawab bahwa ia tentu tidak rela.

Rasulullah kemudian menanyakan hal serupa apabila perbuatan itu dilakukan terhadap anak perempuan, saudara perempuan, atau kerabat perempuannya. Pemuda tersebut tetap menyatakan ketidakrelaannya.

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW mengajaknya memahami bahwa perempuan yang hendak dijadikan sasaran perzinaan juga memiliki hubungan keluarga dengan orang lain.

Sebagaimana ia tidak rela jika kehormatan keluarganya dirusak, orang lain pun memiliki perasaan yang sama terhadap keluarganya.

Pemuda itu kemudian memahami pesan yang disampaikan Rasulullah SAW.

Tidak Berhenti pada Nasihat, Rasulullah Juga Mendoakannya

Dalam kisah yang disampaikan Ustadz Khairul Rafiqi, Rasulullah SAW tidak berhenti setelah memberikan penjelasan kepada pemuda tersebut.

Beliau meletakkan tangannya di dada pemuda itu dan mendoakannya agar Allah menyucikan hatinya, mengampuni dosanya, serta menjaga kehormatannya.

Doa tersebut menunjukkan bahwa proses membimbing seseorang tidak cukup hanya dengan menjelaskan kesalahan. Ada pula doa dan harapan agar orang tersebut memperoleh pertolongan Allah untuk memperbaiki dirinya.

Ustadz Khairul menjadikan kisah ini sebagai gambaran tentang cara Rasulullah SAW mendidik dengan penuh kebijaksanaan. Pemuda yang semula meminta izin melakukan zina akhirnya memahami pesan yang disampaikan kepadanya.

Dalam ceramah tersebut, Ustadz Khairul menekankan keistimewaan metode pendidikan Rasulullah SAW yang menggabungkan penjelasan, pendekatan personal, dan doa.

Pelajaran bagi Orang Tua dan Pendidik

Kisah tersebut memberikan pelajaran bagi orang tua, guru, dan siapa pun yang memiliki tanggung jawab membimbing orang lain.

Ketika menghadapi seseorang yang melakukan kesalahan, respons pertama tidak harus berupa hinaan atau kemarahan. Nasihat dapat disampaikan dengan mengajak orang tersebut memahami akibat perbuatannya dan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Namun, pendekatan yang lembut bukan berarti membenarkan kesalahan. Perbuatan yang dilarang tetap harus dijelaskan sebagai sesuatu yang tidak boleh dilakukan, dengan cara yang tepat dan menjaga martabat orang yang dinasihati.

Melalui kisah pemuda yang meminta izin berzina tersebut, Ustadz Khairul Rafiqi mengajak jamaah melihat bagaimana Rasulullah SAW membimbing seseorang melalui dialog, pemahaman, dan doa.

Kisah ini menjadi salah satu pengingat bahwa pendidikan yang baik tidak hanya bertujuan menunjukkan kesalahan, tetapi juga membantu seseorang memahami kebenaran dan memperbaiki dirinya.