Rasulullah Tidak Membentak Anas bin Malik, Ini Pelajaran untuk Orang Tua
BANDA ACEH – Bagaimana seharusnya orang tua bersikap ketika anak lupa menjalankan perintah? Apakah harus langsung memarahinya, atau ada cara lain yang lebih menenangkan?
Sebuah kisah tentang kelembutan Rasulullah SAW kepada Anas bin Malik menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memastikan perintah dilaksanakan, tetapi juga tentang bagaimana orang tua memperlakukan anak ketika melakukan kesalahan.
Kisah tersebut disampaikan Habib Fahmi Assegaf saat mengisi ceramah di Zawiyah Nurun Nabi pada Kamis, (15/10/2026). Dalam ceramahnya, Habib Fahmi menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW menyikapi Anas bin Malik yang lupa menjalankan tugas yang diberikan kepadanya.
Anas bin Malik Lupa Menjalankan Perintah Rasulullah
Dalam kisah yang disampaikan Habib Fahmi, Anas bin Malik masih berusia sekitar sepuluh tahun ketika mendapat perintah dari Rasulullah SAW untuk membeli sesuatu.
Namun, di tengah perjalanan, Anas melihat teman-temannya sedang bermain. Ia kemudian ikut bermain hingga lupa terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Sementara itu, Rasulullah SAW telah menunggu Anas kembali. Karena anak tersebut belum juga pulang, Rasulullah kemudian menyusulnya.
Habib Fahmi menggambarkan perbedaan sikap Rasulullah dengan kebiasaan sebagian orang tua ketika menghadapi anak yang lupa menjalankan perintah.
“Kalau kita suruh anak kita beli minyak, terus tiba-tiba dia ke lapangan, oh sandal, hadirin. Hah, langsung teriak, ‘Heh, Muhammad! Kan suruh ambil suruh tadi, kamu tak buat tu!’”
Gambaran tersebut menjadi bahan renungan bagi orang tua. Ketika anak melakukan kesalahan, reaksi spontan berupa teriakan atau bentakan sering kali muncul sebelum orang tua memahami situasinya.
Padahal, menegur anak tidak harus dilakukan dengan mempermalukannya, apalagi di hadapan teman-temannya.
Rasulullah Menemui Anas Tanpa Membentaknya
Dalam cerita yang disampaikan Habib Fahmi, Rasulullah SAW mendapati Anas sedang bermain bersama teman-temannya. Alih-alih langsung memarahi atau mempermalukannya, Rasulullah mendekati Anas dengan lembut.
Habib Fahmi menceritakan bahwa Rasulullah bahkan menutup mata Anas dari belakang dan mengajaknya menebak siapa yang datang.
Anas mengenali Rasulullah melalui kelembutan tangan beliau. Momen itu menggambarkan kedekatan dan keakraban yang diceritakan Habib Fahmi dalam ceramahnya.
Hal yang paling penting dalam kisah tersebut adalah bagaimana Rasulullah menyikapi tugas yang terlupakan.
Habib Fahmi menyampaikan:
“Beliau tak marah. Beliau cuma tanya, ‘Tadi apa yang saya suruh beli tadi, dah beli belom?’”
Anas menjawab bahwa dirinya lupa. Rasulullah kemudian mengajaknya pergi untuk membeli barang tersebut.
Dalam penuturan Habib Fahmi, Rasulullah tidak menjadikan kelalaian Anas sebagai alasan untuk membentak atau mempermalukannya.
Kisah ini menghadirkan pelajaran bahwa kesalahan anak dapat menjadi kesempatan untuk membimbingnya, bukan semata-mata alasan untuk meluapkan kemarahan.
Jangan Sampai Anak Takut Mengakui Kesalahannya
Anak-anak masih belajar memahami tanggung jawab, mengingat perintah, mengatur perhatian, dan menentukan pilihan. Karena itu, mereka terkadang mudah terdistraksi oleh sesuatu yang menarik perhatian, seperti permainan bersama teman.
Orang tua tetap perlu mengajarkan tanggung jawab. Namun, cara menyampaikan teguran juga perlu diperhatikan.
Ketika anak lupa melakukan sesuatu, orang tua bisa menanyakan apa yang terjadi, mengingatkan tugasnya, kemudian mendampinginya untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut.
Sebaliknya, bentakan yang berlebihan dapat membuat anak lebih berfokus pada rasa takut terhadap kemarahan orang tua daripada memahami kesalahan yang telah dilakukan.
Anak juga bisa menjadi enggan mengakui kesalahannya karena khawatir akan dimarahi.
Pelajaran yang dapat direnungkan dari kisah yang disampaikan Habib Fahmi adalah pentingnya menjaga cara berbicara ketika menghadapi anak yang melakukan kesalahan.
Rasulullah Memilih Kata-Kata yang Menenangkan
Pada bagian akhir kisah, Habib Fahmi menekankan bahwa Rasulullah SAW dikenal melalui kelembutan sikap dan pilihan kata ketika berhadapan dengan orang lain.
Ia menyampaikan:
“Nabi Muhammad selalu memilih diksi kata yang bisa menenangkan siapapun yang berhadapan dengan Nabi Muhammad alaihi salatu wasalam.”
Pesan ini relevan bagi orang tua, guru, dan siapa saja yang terlibat dalam pendidikan anak.
Mendidik bukan sekadar menyampaikan perintah atau menunjukkan bahwa orang dewasa memiliki wewenang. Pendidikan juga menyangkut cara membangun hubungan, menyampaikan koreksi, dan membantu anak memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Teguran yang jelas tetap diperlukan. Namun, ketegasan tidak harus disampaikan melalui hinaan, teriakan, atau kata-kata yang melukai perasaan anak.
Tiga Pelajaran Parenting dari Kisah Anas bin Malik
Ada beberapa pelajaran praktis yang bisa direnungkan orang tua dari kisah yang disampaikan Habib Fahmi Assegaf.
1. Tenangkan diri sebelum menegur anak
Ketika mengetahui anak lupa menjalankan perintah, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru meluapkan kemarahan. Berhenti sejenak dapat membantu orang tua memilih kata-kata yang lebih tepat.
2. Ingatkan anak tanpa mempermalukannya
Jika anak melakukan kesalahan di depan teman-temannya, teguran tidak harus disampaikan dengan suara keras agar semua orang mendengarnya. Orang tua dapat mengingatkan anak dengan cara yang lebih tenang dan tetap menjaga harga dirinya.
3. Bimbing anak menyelesaikan tanggung jawabnya
Kelembutan bukan berarti membiarkan anak mengabaikan kewajiban. Dalam kisah yang disampaikan Habib Fahmi, setelah mengetahui Anas lupa, Rasulullah mengajaknya pergi untuk membeli barang yang dimaksud. Tanggung jawab tetap diselesaikan, tetapi tanpa bentakan.
Mendidik Anak dengan Ketegasan dan Kelembutan
Kisah Anas bin Malik yang disampaikan Habib Fahmi Assegaf mengajak orang tua untuk kembali mengevaluasi cara mereka menegur anak.
Anak memang perlu belajar menaati perintah, menepati janji, dan menyelesaikan tanggung jawab. Namun, proses belajar tersebut tidak harus disertai bentakan yang membuat anak merasa direndahkan.
Orang tua dapat tetap tegas sambil menjaga kelembutan dalam berbicara. Ketika anak lupa, ingatkan. Ketika anak keliru, bimbing. Ketika anak belum memahami tanggung jawabnya, ajarkan secara bertahap.
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak melakukan apa yang diperintahkan, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang memahami tanggung jawab sekaligus merasa aman untuk belajar dari kesalahan.
