![]() |
| Kisah dalam ceramah Habib Fahmi Assegaf yang mengajak umat Islam menjaga kepedulian dan akhlak kepada sesama. |
BANDA ACEH — Bagaimana seharusnya kita bersikap kepada orang yang berulang kali mengganggu atau menyakiti kita? Membalas perlakuannya, menjauhinya, atau justru tetap menunjukkan kepedulian?
Pertanyaan ini mengingatkan kita pada pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW. Dalam ceramahnya di Zawiyah Nurun Nabi pada Kamis, 15 Oktober 2026, Habib Fahmi Assegaf menyampaikan sebuah kisah tentang seorang tetangga yang disebut kerap membuang sampah di depan rumah Nabi Muhammad SAW.
Kisah yang dituturkan dalam ceramah tersebut menggambarkan sikap penuh perhatian: ketika orang yang biasanya mengganggu itu tidak terlihat melakukan kebiasaannya, Rasulullah justru mencari tahu keadaannya.
Tetangga yang Setiap Hari Membuang Sampah
Habib Fahmi mengisahkan seorang Yahudi yang tinggal di sebelah rumah Rasulullah SAW. Menurut cerita yang disampaikannya, orang tersebut setiap hari membuang sampah di depan rumah Nabi.
Rasulullah menghadapi keadaan itu dengan membersihkan sampah yang ada di depan rumahnya. Kebiasaan tersebut terus berlangsung hingga suatu hari, sampah yang biasanya ditemukan di depan rumah beliau ternyata tidak ada.
Habib Fahmi membandingkan sikap yang mungkin muncul pada kebanyakan orang dengan sikap Rasulullah dalam kisah tersebut.
Ia menuturkan:
"Saya teringat satu orang Yahudi tinggal sebelahnya rumah Nabi. Tiap hari dibuangin sampah depan rumah. Nabi buka pintu, ada sampah, dibuang. Nabi buka pintu, sampah, dibuang."
Alih-alih sibuk memikirkan cara membalas perlakuan tetangganya, dalam cerita tersebut Rasulullah justru memperhatikan perubahan yang terjadi.
Ketika sampah tidak lagi ditemukan, beliau bertanya-tanya mengapa tetangganya tidak melakukan kebiasaan seperti hari-hari sebelumnya.
Rasulullah Mencari Tahu Keadaan Tetangganya
Dalam kisah yang disampaikan Habib Fahmi, Rasulullah kemudian mencari tahu keberadaan tetangganya itu. Beliau bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya di pasar.
Ketika ditanya mengenai alasan beliau mencari orang tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa biasanya ada sampah di depan rumahnya, tetapi hari itu tidak ada.
Habib Fahmi menggambarkan sikap tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa. Orang yang selama ini diceritakan mengganggu beliau justru menjadi seseorang yang keadaannya diperhatikan.
Dalam ceramahnya, Habib Fahmi menyampaikan:
"Hadirin, ini hati model apa, masyaallah, Rasulullah ini. Nyariin orang cuman gara-gara dia nggak buang sampah itu hari."
Belakangan, menurut kisah yang dituturkan Habib Fahmi, Rasulullah mendapat kabar bahwa tetangganya sedang sakit.
Mendengar kabar tersebut, beliau tidak berhenti pada rasa ingin tahu. Rasulullah kemudian membeli bahan makanan, memasak sup, dan mendatangi rumah tetangganya.
Membawakan Sup untuk Tetangga yang Sedang Sakit
Habib Fahmi menceritakan bahwa Rasulullah datang ke rumah tetangganya sambil membawa sup. Beliau mengetuk pintu dan menyampaikan alasan kedatangannya.
Dalam ceramah tersebut, Habib Fahmi menuturkan perkataan Rasulullah:
"Hari ini aku tak jumpai engkau punya sampah. Aku khawatir engkau kenapa-kenapa. Aku tanya orang di pasar katanya engkau sakit. Ini ada sup sedikit, barangkali bisa sembuhkan engkau punya penyakit."
Dalam kisah itu, tetangga tersebut terkejut melihat perhatian yang diberikan Rasulullah. Orang yang selama ini diceritakan membuang sampah di depan rumah beliau justru menerima kunjungan dan makanan ketika sedang sakit.
Habib Fahmi melanjutkan bahwa dalam cerita tersebut, tetangga itu kemudian menyatakan kesaksiannya tentang keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Bagian ini menjadi puncak pesan yang ingin disampaikan melalui kisah tersebut: akhlak yang baik dapat menyentuh hati seseorang dengan cara yang tidak terduga.
Namun, kisah ini perlu dipahami sesuai sumbernya. Artikel ini menyajikannya berdasarkan penuturan Habib Fahmi dalam ceramah, bukan sebagai riwayat sejarah atau hadis yang telah diverifikasi.
Pelajaran Akhlak: Jangan Membiarkan Keburukan Orang Lain Mengubah Sikap Kita
Salah satu pelajaran yang dapat direnungkan dari kisah tersebut adalah pentingnya menjaga akhlak ketika berhadapan dengan orang yang bersikap tidak menyenangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menghadapi tetangga yang mengganggu, rekan kerja yang bersikap tidak adil, atau orang lain yang sulit diajak berhubungan baik.
Kita tentu boleh menjaga batasan dan menyelesaikan gangguan melalui cara yang tepat. Namun, kita tidak harus membalas setiap perlakuan buruk dengan keburukan yang sama.
Ada perbedaan antara membiarkan diri terus dirugikan dan memilih untuk tidak membalas dengan tindakan yang menyakiti. Menjaga akhlak tidak berarti mengabaikan masalah, melainkan menyelesaikannya tanpa kehilangan sikap manusiawi.
Kisah yang disampaikan Habib Fahmi mengajak kita untuk melihat orang lain bukan hanya dari kesalahan yang pernah mereka lakukan. Bisa jadi, di balik perilaku yang tidak menyenangkan, ada keadaan yang belum kita ketahui.
Mengajarkan Kepedulian kepada Anak Sejak Dini
Pelajaran dari kisah ini juga relevan bagi orang tua dan guru yang sedang membentuk karakter anak.
Anak perlu diajarkan bahwa kebaikan tidak hanya ditujukan kepada orang yang bersikap baik kepada mereka. Mereka juga perlu belajar mengelola emosi ketika menghadapi teman yang menyebalkan atau orang yang berbeda pendapat.
Orang tua dapat memulainya dengan beberapa langkah sederhana:
Ajarkan anak menahan diri. Ketika diganggu temannya, anak perlu belajar berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Biasakan mencari tahu keadaan orang lain. Jangan langsung menyimpulkan sesuatu hanya dari satu kejadian.
Bedakan memaafkan dan membiarkan gangguan. Anak boleh meminta bantuan orang dewasa jika mengalami perundungan atau perlakuan yang membahayakan.
Berikan teladan dalam kehidupan sehari-hari. Anak lebih mudah belajar kepedulian ketika melihat orang tuanya bersikap santun kepada tetangga dan orang di sekitarnya.
Biasakan membantu dengan cara sederhana. Menjenguk orang sakit, menyapa tetangga, atau menawarkan bantuan dapat menjadi latihan nyata untuk membangun empati.
Pendidikan akhlak bukan hanya tentang meminta anak menghafal nasihat. Anak juga perlu melihat bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam tindakan sehari-hari.
Belajar Mengenal Hati Rasulullah SAW
Dalam ceramahnya, Habib Fahmi mengajak jamaah untuk mempelajari Rasulullah SAW bukan hanya dari sejarah perjalanan hidup dan ciri fisik beliau, tetapi juga dari sisi hati dan cara beliau menghadapi orang lain.
Ia menekankan pentingnya memahami bagaimana Rasulullah mengelola hati ketika berhadapan dengan orang yang tidak menyukai beliau.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa meneladani Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan mengetahui kisah hidup beliau. Kita juga perlu berusaha menerapkan nilai-nilai akhlaknya dalam hubungan dengan keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat.
Kisah tetangga yang disampaikan Habib Fahmi mengajak kita merenungkan satu hal sederhana: jangan sampai perlakuan buruk orang lain membuat kita kehilangan kepedulian dan akhlak yang baik.
Sikap santun bukan tanda kelemahan. Kepedulian juga bukan berarti kita harus membiarkan diri dirugikan. Kita tetap dapat menyelesaikan persoalan dengan tegas, sembari menjaga hati dan memperlakukan orang lain secara manusiawi.
