![]() |
| Kisah yang disampaikan Habib Fahmi Assegaf tentang pentingnya menjaga perasaan orang lain sebagai bagian dari akhlak mulia. |
BANDA ACEH — Menjaga perasaan orang lain terkadang membutuhkan pengendalian diri. Seseorang mungkin harus menahan ketidaknyamanan agar tidak melukai hati orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Pelajaran tentang akhlak tersebut disampaikan Habib Fahmi Assegaf dalam ceramahnya di Zawiyah Nurun Nabi pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam ceramah itu, ia menceritakan sebuah kisah tentang Rasulullah SAW yang menerima pemberian anggur dari seseorang.
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW tidak hanya memperhatikan apa yang beliau rasakan, tetapi juga memikirkan perasaan orang yang memberikan hadiah.
Kisah Rasulullah dan Anggur yang Masam
Dalam ceramahnya, Habib Fahmi menceritakan seseorang yang datang membawa anggur untuk Rasulullah SAW. Nabi kemudian menyantap anggur tersebut, sementara orang yang memberikannya memperhatikan hingga beliau selesai makan.
Habib Fahmi menggambarkan bahwa Rasulullah tetap tersenyum saat menyantap anggur itu. Orang yang memberikan anggur pun menunggu, ingin mengetahui bagaimana tanggapan Rasulullah terhadap pemberiannya.
Ketika ditanya mengenai rasa anggur tersebut, Rasulullah dalam kisah yang disampaikan itu menjawab bahwa anggur tersebut sangat enak.
Habib Fahmi menuturkan:
"Kata Nabi, 'Wah, anggur punya kamu paling enak,' kata Rasul. Dia pulang girang banget, senang banget dia, Nabi Muhammad senang."
Orang yang memberikan anggur itu pun pulang dengan perasaan bahagia karena mengira pemberiannya disukai oleh Rasulullah SAW.
Namun, para sahabat yang menyaksikan kejadian tersebut merasa heran. Biasanya, ketika ada makanan yang diberikan kepada Rasulullah, beliau juga membagikannya kepada para sahabat. Kali itu, anggur tersebut justru dihabiskan sendiri oleh Rasulullah.
Habib Fahmi melanjutkan ceritanya dengan pertanyaan para sahabat kepada Nabi:
"Ya Rasulullah, biasanya kita kalau makan join barengan Rasulullah, kau kasih ke kami. Kenapa kali ini kau tak berikan kepada kami?"
Mengapa Rasulullah Tidak Membagikan Anggur Itu?
Dalam kisah yang disampaikan Habib Fahmi, Rasulullah menjelaskan bahwa anggur tersebut terasa masam. Beliau khawatir para sahabat tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajah mereka ketika mencicipinya.
Jika hal itu terjadi, orang yang membawa anggur bisa mengetahui bahwa pemberiannya tidak terasa enak. Rasulullah khawatir orang tersebut akan bersedih hati.
Habib Fahmi mengutip jawaban Rasulullah dalam kisah tersebut:
"Anggurnya masam. Macam mana aku mau kasih kalian? Kalau aku kasih kalian, aku khawatir bahasa tubuh kalian tak mampu menyembunyikan kemasaman anggur tersebut. Aku khawatir dia sedih hati kasih nabinya anggur yang masam."
Kisah ini menyoroti perhatian terhadap perasaan orang lain. Dalam menyikapi sebuah pemberian, bukan hanya rasa atau kualitas barang yang perlu diperhatikan, melainkan juga niat baik orang yang memberikannya.
Orang yang memberikan sesuatu belum tentu memiliki kemampuan untuk memberikan yang terbaik. Namun, pemberiannya bisa jadi lahir dari rasa cinta, penghormatan, dan keinginan untuk membahagiakan orang yang menerimanya.
Menjaga Perasaan Orang Lain Adalah Bagian dari Akhlak
Di akhir kisah tersebut, Habib Fahmi menekankan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah SAW, khususnya dalam menjaga perasaan orang lain.
Ia menyampaikan:
"Subhanallah, hadirin. Hada al-akhlak. Menjaga, daripada hak tersebut. Tidak ada yang lebih mengajarkan kepada menjaga perasaan melebihi daripada Rasulullah."
Pesan ini relevan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat.
Misalnya, ketika seorang anak memberikan hasil karyanya kepada orang tua, tanggapan yang terlalu keras dapat membuatnya kehilangan keberanian untuk mencoba lagi. Begitu pula ketika seseorang memberikan hadiah sederhana, komentar yang merendahkan dapat melukai hatinya meskipun pemberian itu dilakukan dengan tulus.
Menjaga perasaan bukan berarti harus selalu berpura-pura atau menyembunyikan kebenaran dalam setiap keadaan. Akan tetapi, kita perlu mempertimbangkan cara menyampaikan sesuatu agar tidak mempermalukan atau menyakiti orang lain tanpa alasan yang diperlukan.
Kejujuran dan kelembutan dapat berjalan bersama. Kita bisa menyampaikan pendapat dengan baik, menghargai niat seseorang, dan menghindari ucapan yang hanya akan merendahkan dirinya.
Mengenal Hati Rasulullah, Bukan Hanya Sejarahnya
Habib Fahmi kemudian mengajak jamaah untuk mempelajari Rasulullah SAW bukan hanya dari sisi sejarah perjalanan hidup dan ciri fisik beliau, tetapi juga dari sisi hati dan cara beliau menghadapi orang lain.
Dalam ceramahnya, ia menyebut tiga hal yang perlu dipelajari: sejarah perjalanan Nabi, keadaan fisik Nabi, dan hati Nabi.
Ia menjelaskan:
"Apa itu? Sariratuh, hatinya Nabi. Macam mana Nabi mengelola hatinya untuk menghadapi bahkan orang-orang yang tak mencintai Nabi, yang tak menyukai Nabi."
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa mengenal Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengetahui peristiwa-peristiwa dalam sejarah hidup beliau. Umat Islam juga perlu berusaha memahami akhlak, kelembutan, dan cara beliau memperlakukan sesama manusia.
Kisah anggur masam yang disampaikan Habib Fahmi menjadi pengingat bahwa akhlak mulia dapat terlihat dari tindakan sederhana: menghargai pemberian, membaca keadaan orang lain, dan mempertimbangkan dampak ucapan maupun sikap kita terhadap perasaan sesama.
Pelajaran utamanya: jangan sampai keinginan untuk menyampaikan apa yang kita rasakan membuat kita mengabaikan perasaan orang lain. Belajarlah menyampaikan sesuatu dengan bijaksana, sebagaimana umat Islam diperintahkan untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW.
