![]() |
| Habib Fahmi Assegaf mengajak jamaah meneladani keramahan dan kemampuan Rasulullah SAW mencairkan suasana ketika berinteraksi dengan orang lain. |
BANDA ACEH – Rasulullah Muhammad SAW dikenal sebagai teladan dalam akhlak dan cara memperlakukan orang lain. Salah satu hal menarik yang disoroti Habib Fahmi Assegaf dalam ceramahnya adalah bagaimana orang-orang yang berinteraksi dengan Rasulullah bisa merasa sangat dekat dan dicintai oleh beliau.
Hal tersebut disampaikan Habib Fahmi saat berceramah di Zawiyah Nurun Nabi pada Kamis, (15/10/2026). Dalam penjelasannya, ia menyoroti kebiasaan Rasulullah tersenyum ketika bertemu orang serta kemampuan beliau membangun percakapan yang membuat lawan bicara merasa nyaman.
Menurut Habib Fahmi, sikap tersebut merupakan bagian penting dari akhlak Rasulullah SAW yang patut dipelajari dan diteladani.
Sahabat Merasa Menjadi Orang yang Paling Dicintai Rasulullah
Dalam ceramahnya, Habib Fahmi menceritakan bahwa para sahabat memiliki perasaan yang menarik ketika berinteraksi dengan Rasulullah. Mereka bisa merasa bahwa dirinya merupakan orang yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW.
Habib Fahmi menggambarkan suasana tersebut melalui percakapan antarsahabat.
“Ini sahabat kalau ngumpul-ngumpul sama, bilang, ‘Eh tau ga, ini Nabi Muhammad paling sayang sama aku ni. Sama ana.’”
Ia melanjutkan bahwa sahabat lain juga merasa memiliki kedekatan yang sama dengan Rasulullah.
“Yang lain bilang, ‘Oh enggak, kamu enggak nengok Nabi Muhammad semalam gimana kalau bercanda sama saya. Kalau kamu tengok, kamu dapat tau Nabi Muhammad itu lebih sayang sama saya.’”
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana interaksi Rasulullah dengan para sahabat meninggalkan kesan kedekatan secara personal.
Habib Fahmi kemudian menjelaskan salah satu sifat yang menjadi bagian dari gambaran tersebut, yaitu kebiasaan Rasulullah tersenyum ketika berjumpa dengan orang lain.
Katsratul Basyasyah, Kebiasaan Tersenyum Rasulullah
Habib Fahmi menggunakan istilah katsratul basyasyah untuk menjelaskan sifat Rasulullah yang banyak tersenyum dan menunjukkan keramahan ketika bertemu orang.
Ia menyampaikan:
“Karena apa? Karena Nabi Muhammad itu punya satu sifat yang tak dimiliki oleh orang lain, namanya katsratul basyasyah. Senyum mulu Nabi Muhammad kalau jumpa orang. Jumpa orang yang baik senyum, yang tak baik sama beliau senyum, yang akhlaknya buruk sama beliau, beliau senyum aja, hadirin. Senyum banget.”
Penjelasan tersebut menempatkan senyum bukan sekadar ekspresi wajah, melainkan bagian dari cara seseorang menyambut dan memperlakukan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, senyum dan sapaan yang ramah dapat membuat suasana pertemuan terasa lebih hangat. Sebaliknya, ekspresi yang selalu menunjukkan ketidaksenangan dapat membuat orang lain merasa sungkan untuk mendekat atau memulai percakapan.
Melalui penjelasannya, Habib Fahmi mengajak pendengar memperhatikan kembali bagaimana mereka menyambut orang lain, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di lingkungan masyarakat.
Rasulullah Pandai Mencairkan Suasana
Selain kebiasaan tersenyum, Habib Fahmi menyoroti kemampuan Rasulullah dalam membangun komunikasi yang sesuai dengan orang yang sedang berbicara dengan beliau.
Ia menyebut bahwa Rasulullah mampu membuat orang merasa nyaman karena percakapan yang berlangsung terasa nyambung dengan minat dan pembicaraan lawan bicara.
Habib Fahmi mengatakan:
“Dan Nabi Muhammad punya satu ciri yang mengapa tadi sahabat langsung bisa menyatakan, ‘Ah kayaknya aku orang yang paling dicintai oleh Nabi.’ Kenapa? Nabi punya satu kelebihan yang disebutkan oleh para ulama termasuk Profesor Dr. Abuya Muhammad Sayyid Al Maliki, beliau itu pandai mencairkan suasana.”
Ia kemudian memberikan gambaran bagaimana Rasulullah menyesuaikan percakapan dengan topik yang disukai orang yang berbicara kepada beliau.
“Nih kalau ada kawan orang yang ngobrol ni, dia senang masak, ngobrol sama Nabi, Nabi tiba-tiba nyambung ngobrol masakan, ‘Iya tahu, masakannya begini, begini, begini.’”
Habib Fahmi juga memberikan contoh lain mengenai percakapan tentang pertanian dan kurma.
“Kalau ada yang ngobrol tentang pertanian, tentang kurma, segala macam, ‘Iya kalau kurma tu begini, begini, begini.’ Nabi itu sengaja bikin supaya siapa saja yang ngobrol sama Nabi ngerasa nyaman, ngerasa nyambung sama Nabi, biar Nabi tahu semuanya.”
Dari penjelasan tersebut, Habib Fahmi menyoroti pentingnya kemampuan mendengarkan dan memahami lawan bicara.
Dalam pergaulan, komunikasi yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu atau seberapa panjang ia berbicara. Kemampuan memperhatikan topik yang sedang dibahas dan merespons dengan tepat juga berperan dalam membangun hubungan yang baik.
Pelajaran bagi Orang Tua, Guru, dan Masyarakat
Penjelasan Habib Fahmi tentang akhlak Rasulullah memiliki relevansi dalam berbagai hubungan sosial, termasuk hubungan orang tua dengan anak dan guru dengan murid.
Di rumah, orang tua dapat membangun kedekatan dengan anak melalui kebiasaan menyapa, mendengarkan cerita mereka, serta memberikan perhatian ketika anak berbicara.
Di sekolah, guru dapat menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dengan menyambut murid secara ramah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan.
Sementara itu, dalam kehidupan bermasyarakat, kebiasaan tersenyum, menyapa, dan mendengarkan orang lain dapat membantu menciptakan interaksi yang lebih hangat.
Tentu saja, keramahan bukan berarti seseorang harus selalu menyetujui semua perkataan orang lain. Seseorang tetap dapat menyampaikan pendapat yang berbeda atau memberikan teguran, tetapi melakukannya dengan cara yang santun dan menghormati lawan bicara.
Pelajaran yang dapat diambil dari ceramah tersebut adalah pentingnya membangun komunikasi yang membuat orang lain merasa dihargai.
Belajar Meneladani Akhlak Rasulullah
Dalam bagian ceramah ini, Habib Fahmi Assegaf menyoroti dua hal yang saling berkaitan dalam interaksi Rasulullah dengan orang lain: kebiasaan tersenyum dan kemampuan mencairkan suasana.
Keduanya menjadi bahan renungan tentang bagaimana sikap sederhana dapat memengaruhi kualitas hubungan antarmanusia.
Senyum, sapaan yang baik, perhatian terhadap pembicaraan, dan kesediaan mendengarkan merupakan kebiasaan yang dapat dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Rasulullah tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang sejarah kehidupan beliau, tetapi juga dengan usaha menerapkan akhlak yang dipelajari dalam hubungan dengan keluarga dan masyarakat.
Pesan Habib Fahmi dalam ceramah di Zawiyah Nurun Nabi tersebut mengingatkan bahwa komunikasi yang baik bukan semata-mata tentang menyampaikan sesuatu kepada orang lain, melainkan juga tentang bagaimana membuat mereka merasa nyaman, didengar, dan dihargai.
