BANDA ACEH – Sehebat apa pun seseorang selama hidupnya, dunia tidak akan berhenti ketika ia meninggal dunia. Jabatan, kekuasaan, kekayaan, dan segala sesuatu yang dibanggakan manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Kehidupan akan terus berjalan sebagaimana ketentuan Allah SWT.
Pesan mendalam tersebut disampaikan Ustadz Azhar Abdullah, M.Ag., saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Baiturrahmah Gampong Keuramat, Banda Aceh, Jumat (30/10/2026).
Dalam khutbahnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil itu mengajak jemaah untuk merenungkan betapa kecilnya kedudukan manusia di hadapan perjalanan kehidupan dunia yang terus berlangsung.
Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali merasa dirinya begitu hebat, penting, dan memiliki kedudukan tinggi. Padahal, ketika kematian datang, dunia tidak akan berhenti hanya karena kepergiannya.
"Dunia ini akan terus berjalan tanpa kita. Tak ada hebat-hebatnya kita. Seandainya hari ini orang paling hebat di dunia ini meninggal dunia, dunia ini berjalan seperti yang Allah kehendaki. Dia tidak pernah berhenti," ungkapnya di hadapan jemaah.
Presiden dan Bupati Meninggal, Dunia Tetap Berjalan
Untuk menggambarkan betapa kecilnya manusia, Ustadz Azhar memberikan perumpamaan tentang kematian orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan.
Menurutnya, bahkan ketika seorang presiden meninggal dunia, kehidupan dunia tetap berjalan sebagaimana biasanya. Begitu pula apabila seorang bupati meninggal dunia, aktivitas masyarakat dan kehidupan di sekitarnya tidak serta-merta berhenti.
"Presiden meninggal hari ini, dunia ini berjalan sebagaimana biasanya. Bupati meninggal hari ini, berjalan sebagaimana biasanya. Tidak ada terhenti dunia gara-gara kita meninggal," jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa jika orang-orang yang memiliki jabatan tinggi saja tidak mampu menghentikan perjalanan dunia ketika meninggal, apalagi manusia biasa yang selama hidupnya mungkin merasa memiliki banyak kelebihan.
Pesan tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak terjebak dalam perasaan hebat, merasa paling penting, atau menganggap dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Sebab, jabatan dan kedudukan hanyalah titipan yang suatu saat akan berakhir.
Seratus Tahun Lagi, Tak Seorang Pun dari Kita Masih Ada
Ustadz Azhar juga mengajak jemaah membayangkan bagaimana keadaan dunia seratus tahun yang akan datang.
Ia menyampaikan bahwa orang-orang yang saat ini duduk bersama di dalam masjid, melaksanakan salat Jumat, dan mendengarkan khutbah, suatu saat semuanya akan meninggalkan kehidupan dunia.
"Kita yang ada dalam masjid ini, Bapak-bapak sekalian, 100 tahun yang akan datang, satu orang pun tak ada lagi kita," ujarnya.
Pernyataan tersebut mengajak setiap orang untuk menyadari bahwa kehidupan manusia sangat terbatas. Tidak ada yang dapat memastikan berapa lama kesempatan hidup yang masih tersisa.
Hari ini seseorang mungkin memiliki jabatan, harta, pengaruh, dan dihormati banyak orang. Namun, semuanya tidak akan dibawa ketika kematian datang.
Yang akan menjadi bekal adalah amal perbuatan selama menjalani kehidupan di dunia.
Jangan Jadikan Dunia sebagai Tempat Tinggal Abadi
Lebih jauh, Ustadz Azhar mengingatkan bahwa salah satu persoalan manusia adalah ketika terlalu mencintai dunia hingga lupa bahwa kehidupan ini hanyalah persinggahan sementara.
Orang yang menganggap dunia sebagai tempat tinggal abadi akan terus dikuasai keinginan dan hawa nafsu. Apa yang telah dimiliki tidak pernah terasa cukup. Ketika mendapatkan sesuatu, ia kembali menginginkan yang lebih banyak.
Ia menggambarkan bagaimana manusia yang terus mengikuti hawa nafsunya akan sulit menemukan batas kepuasan. Diberikan satu lembah emas, masih menginginkan lembah kedua. Setelah mendapatkan dua, muncul keinginan untuk memiliki yang ketiga.
Padahal, sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, semuanya tetap akan ditinggalkan ketika ajal tiba.
Karena itu, manusia perlu menggunakan akal dan hati nuraninya untuk menempatkan dunia secara proporsional. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat.
Kematian Seharusnya Membuat Manusia Lebih Rendah Hati
Pesan khutbah tersebut mengandung pelajaran penting tentang tawaduk atau sikap rendah hati.
Kesadaran bahwa manusia hanyalah makhluk sementara seharusnya membuat seseorang tidak mudah menyombongkan diri, merendahkan orang lain, atau berlebihan dalam mengejar kekuasaan dan kekayaan.
Tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa paling hebat, sebab semua orang memiliki batas kehidupan yang sama, yakni akan kembali kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, khutbah Ustadz Azhar Abdullah mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak selamanya menjadi milik kita. Dunia akan terus berjalan, generasi akan terus berganti, dan manusia satu per satu akan meninggalkan kehidupan ini.
Jangan terlalu sibuk membangun kebanggaan di dunia hingga lupa mempersiapkan kepulangan kepada Allah SWT. Sebab, yang terpenting bukan seberapa hebat kita dikenal selama hidup, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
.png)