Kisah Cicak dan Nyamuk, Kucing dan Ikan: Bukti Allah Maha Pemberi Rezeki

Ilustrasi cicak dan nyamuk sebagai perumpamaan rezeki dari Allah SWT dalam khutbah Ustadz Azhar Abdullah di Masjid Baiturrahmah Banda Aceh.
[Ilustrasi] Kucing di darat ikan di laut
Kisah Cicak dan Nyamuk, Kucing dan Ikan: Pelajaran tentang Rezeki dalam Khutbah Ustadz Azhar Abdullah

BANDA ACEH – Bagaimana mungkin seekor cicak yang tidak bisa terbang mendapatkan makanan berupa nyamuk yang memiliki kemampuan terbang? Atau bagaimana seekor kucing yang tidak bisa berenang justru mendapatkan ikan yang hidup di dalam air?

Pertanyaan sederhana ini menyimpan pelajaran mendalam tentang hakikat rezeki dan kebesaran Allah SWT sebagai Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam khutbah Jumat yang disampaikan Ustadz Azhar Abdullah, M.Ag., di Masjid Baiturrahmah Gampong Keuramat, Banda Aceh, Jumat (30/10/2026).

Dalam khutbahnya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil tersebut mengajak jemaah untuk tidak berlebihan dalam mencemaskan persoalan rezeki. Sebab, Allah SWT memiliki kuasa untuk mendatangkan rezeki bagi setiap makhluk-Nya melalui cara yang terkadang berada di luar jangkauan akal manusia.

Cicak Tidak Bisa Terbang, tetapi Rezekinya Nyamuk yang Bisa Terbang

Salah satu perumpamaan yang disampaikan adalah tentang seekor cicak dan nyamuk.

Cicak merupakan hewan yang tidak memiliki kemampuan terbang. Namun, salah satu makanannya adalah nyamuk, serangga kecil yang justru memiliki kemampuan terbang dan bergerak bebas di udara.

Jika hanya melihat kemampuan fisik keduanya, mungkin muncul pertanyaan: bagaimana cicak bisa mendapatkan makanan yang dapat terbang menjauh darinya?

Di sinilah manusia diajak merenungkan kekuasaan Allah SWT.

Allah yang menciptakan cicak, Allah pula yang menciptakan nyamuk. Allah mengetahui kebutuhan setiap makhluk dan telah mengatur rezekinya dengan cara yang dikehendaki-Nya.

Cicak tidak harus memiliki sayap untuk mendapatkan makanan. Allah telah menyediakan jalan bagi makhluk tersebut untuk memperoleh rezekinya.

Kucing Tidak Bisa Menyelam, tetapi Rezekinya Ikan

Perumpamaan berikutnya adalah tentang kucing dan ikan.

Kucing bukanlah hewan yang memiliki kemampuan berenang dan menyelam seperti ikan. Sementara itu, ikan hidup di dalam air dan bergerak bebas di habitatnya.

Meskipun demikian, ikan tetap bisa menjadi makanan bagi kucing.

Perumpamaan ini kembali menunjukkan bahwa keterbatasan kemampuan suatu makhluk tidak membatasi kekuasaan Allah SWT dalam mengatur rezekinya.

Apa yang terlihat sulit atau bahkan mustahil menurut perhitungan manusia, sangat mudah bagi Allah apabila Dia menghendakinya.

Melalui kedua perumpamaan tersebut, Ustadz Azhar mengajak jemaah memahami bahwa rezeki tidak semata-mata datang berdasarkan kemampuan yang dimiliki manusia atau makhluk lainnya. Ada kekuasaan Allah yang mengatur seluruh kehidupan dan kebutuhan makhluk-Nya.

Allah Mampu Mendatangkan Rezeki dari Jalan yang Tidak Disangka-sangka

Dalam khutbah tersebut, pesan tentang kebesaran Allah dalam memberikan rezeki juga dikaitkan dengan berbagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah SWT mampu menghadirkan sesuatu yang tampak mustahil menurut perhitungan manusia. Sebagaimana mukjizat unta Nabi Saleh AS yang dikeluarkan Allah dari batu, serta air Zamzam yang Allah munculkan di tengah tanah tandus Makkah melalui peristiwa yang dialami Hajar dan Nabi Ismail AS.

Semua itu menjadi pengingat bahwa tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah SWT.

Karena itu, manusia tidak seharusnya mengukur kemampuan Allah hanya berdasarkan keterbatasan akalnya sendiri.

Jika Allah mampu memberikan rezeki kepada makhluk-Nya melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka, maka seorang muslim tidak perlu kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan hidup.

Jangan Gelisah Memikirkan Rezeki, Perkuat Ketakwaan kepada Allah

Pesan utama dari perumpamaan cicak dan nyamuk serta kucing dan ikan tersebut adalah pentingnya membangun keyakinan kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur'an, Allah telah memberikan janji kepada orang-orang yang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Talaq ayat 2–3:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya:

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."

Ayat ini mengajarkan bahwa ketakwaan merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Ketika menghadapi kesulitan, manusia hendaknya tidak hanya sibuk mencari jalan keluar dengan kemampuannya sendiri, tetapi juga memperkuat doa, ibadah, dan ketergantungannya kepada Allah SWT.

Namun, keyakinan terhadap jaminan rezeki Allah bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan. Setiap muslim tetap diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, dan mencari nafkah melalui jalan yang halal.

Yang perlu dihindari adalah membiarkan kekhawatiran terhadap rezeki membuat seseorang kehilangan ketenangan, melupakan ibadah, atau bahkan menghalalkan segala cara demi mendapatkan harta.

Rezeki Sudah Diatur, Tugas Manusia Adalah Berikhtiar dan Bertakwa

Kisah cicak dan nyamuk serta kucing dan ikan memberikan pelajaran sederhana, tetapi sangat bermakna.

Manusia sering kali merasa gelisah karena tidak mengetahui bagaimana masa depan kehidupannya. Ada yang khawatir tentang pekerjaan, penghasilan, kebutuhan keluarga, pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Padahal, manusia tidak dituntut untuk mengetahui secara pasti dari mana rezekinya akan datang. Manusia diperintahkan untuk berusaha, berdoa, menjaga ketakwaan, dan senantiasa bertawakal kepada Allah SWT.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencemaskan rezeki hingga lupa kepada Zat yang memberikan rezeki.

Jika cicak yang tidak bisa terbang saja memiliki rezeki berupa nyamuk, dan kucing yang tidak bisa menyelam saja bisa mendapatkan ikan, lalu mengapa manusia harus kehilangan keyakinan kepada Allah yang Maha Mengatur segala sesuatu?

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur, tidak mudah berputus asa, serta memiliki keyakinan yang kuat terhadap ketetapan dan kemurahan rezeki-Nya.